Rabu, 2 September 2009 16:34 WIB Karanganyar Share :

Gara-gara isu flu babi, peternak babi rakyat terpuruk

Karanganyar (Espos)–Sejak kasus flu babi merebak sekitar Mei lalu, para peternak babi di Kabupaten Karanganyar terpuruk.

Mereka terus merugi lantaran tingkat permintaan daging babi merosot. Harga jualnya pun langsung anjlok di pasaran. Ditaksir total kerugian yang dialami mencapai Rp 7 miliar lebih.

Hal itu diungkapkan Ketua Asosiasi Peternak Babi Surakarta, Robby Musnadi, saat memberikan paparan pada acara sosialisasi influenza A H1N1 di Gedung DPRD Karanganyar, Selasa (1/9) sore.

“Dari total penjualan babi rata-rata 4.000 ekor/bulan, langsung turun drastis menjadi 1.500-2.000 ekor/bulan. Asumsinya, seekor babi dengan berat 70-80 kg, harga tertinggi sebelum kasus flu babi merebak mencapai Rp 15.000/kg. Saat ini turun menjadi Rp 8.000/kg, bahkan yang lebih ironis harga babi rakyat hanya sekitar Rp 6.000/kg,” paparnya.

Menurut Robby, kerugian yang dialami peternak hingga Rp 7 miliar tersebut terhitung sejak bulan Mei hingga Juli. Sedangkan pada Agustus penjualan mulai mengalami peningkatan walau hanya sampai 60% dari keadaan normal.

“Jika kerugian itu dihitung sampai Agustus lalu, maka total kerugian yang dialami para peternak mencapai Rp 10 miliar lebih. Bisa dibilang, para peternak saat ini betul-betul terpuruk. Sampai sekarang hanya bisa bertahan. Harga jualnya tidak sebanding dengan pakan yang dikonsumsi ternak setiap hari,” jelasnya.

Karanganyar sendiri merupakan daerah peternakan babi terbesar se-Jawa Tengah. Jumlah ternak babi di wilayah ini mencapai 44.000 ekor dari total 149.000 ekor babi di Jateng. Jadi, tidak heran ketika isu flu babi merebak, peternak babi di Karanganyar yang paling terkena dampaknya.

Di tempat yang sama, Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Provinsi Jateng, Drh Whitono, menyebutkan di wilayah Jateng terdapat sekitar 26.000 ekor babi yang dipotong setiap bulannya. Ketika isu flu babi itu merebak, kata dia, pengaruhnya cukup besar dan berdampak buruk bagi kalangan peternak. Peternak harus merugi hingga miliaran rupiah.

“Padahal berdasarkan hasil penelitian para ahli, penyakit flu babi yang menghebohkan tersebut sebenarnya bukan berasal atau ditularkan oleh babi. Flu ini hanya flu biasa yang menyerang babi. Penyakit yang mewabah saat ini adalah A H1N1 yang merupakan gabungan dari berbagai virus, mulai dari H5N1, H9N2, H2N2,” ungkapnya.

Ditegaskannya, selama ini ada kesalahpahaman tentang informasi seputar flu babi. Hanya karena penyebabnya adalah daging babi, lantas disebut sebagai flu babi.

“Padahal bukan. Untuk itu para pedagang merasa dirugikan dan minta agar masalah ini diluruskan. Virus ini sebenarnya akan mati pada suhu 80 derajat dan hanya dalam waktu satu menit,” ujarnya.

dsp

lowongan pekerjaan
PT.ARUTAMA BUMI STILINDO, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Intelek Banal Kampus Milenial

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (9/12/2107). Esai ini karya Adi Putra Surya Wardhana, alumnus Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah adiputra.48697@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Beberapa waktu lalu beberapa kawan yang menempuh…