Selasa, 1 September 2009 15:50 WIB Boyolali Share :

Keberadaan swalayan Mitra disoal

Boyolali (Espos)–Ketua Tim Advokasi Paguyuban Pedagang Pasar Boyolali (P3B), Thontowi Jauhari, menyoal kegiatan operasional swalayan Mitra yang berada di Jalan Pandanaran tepatnya depan Pasar Boyolali. Keberadaan swalayan yang baru beroperasi beberapa pekan ini dikhawatirkan bisa mematikan pedagang Pasar Boyolali.

Kekhawatiran ini dilandasi pada hasil survey yang dilakukan Tim Advokasi P3B di swalayan tersebut. Hasil survey menunjukkan barang dagangan yang dijual di swalayan Mitra sama dengan barang dagangan yang dijual pedagang pasar yang menyasar konsumen di segmen menengah ke bawah.

Di tambah lagi harga yang ditawarkan swalayan Mitra lebih rendah.

“Kalau persaingan ini dibiarkan maka yang kalah adalah pedagang pasar. Apalagi Pasar Boyolali belum jadi, sementara Mitra sudah berjalan. Bisa-bisa Pasar Boyolali tidak laku,” ujar Thontowi saat ditemui di Gedung DPRD Kabupaten Boyolali, Selasa (1/9).

Menurutnya, pihak manajemen swalayan Mitra harus menyasar konsumen dari kalangan menengah ke atas, tidak sama dengan konsumen yang disasar pedagang pasar. Jika segmen pasar yang dibidik beda, harusnya barang dagangan yang dijual pun berbeda.

“Kami meminta agar manajemen swalayan Mitra menjual barang-barang untuk segmen menengah ke atas,” lanjutnya.

Ia menambahkan, kondisi pedagang Pasar Boyolali yang menempati pasar darurat saat ini memprihatinkan. Ia mengambil contoh ada pedagang baju yang sering kali dalam sehari tak laku satu baju pun. Padahal untuk sampai ke pasar darurat ia mengeluarkan ongkos sekitar Rp 4.000.

Anggota Dewan dari PAN ini juga meminta agar Pemkab tidak menutup mata dan turun tangan mengatasi persoalan ini.

Dipaparkannya, sejak awal pihaknya tidak setuju dengan pembangunan swalayan Mitra. Selain karena berpotensi mematikan pedagang pasar, persoalan izinnya pun dinilai menyalahi aturan.

kha

lowongan pekerjaan
Penerbit Ziyad Visi Media, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Haul dan Risalah Maulid Simtuddurar

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (09/01/2018). Esai ini karya Muhammad Dalhar, alumnus Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret dan anggota Jemaah Ahbabul Musthofa. Alamat e-mail penulis adalah mbahdalhar7@gmail.com Solopos.com, SOLO–Haul Habib Ali kembali digelar….