Selasa, 1 September 2009 10:50 WIB Ekonomi Share :

2.627 BPR di Indonesia terancam gulung tikar

Malang–Sebanyak 2.627 Bank Perkreditan Rakyat (BPR) yang beroperasi di seluruh Indonesia terancam gulung tikar akibat persaingan yang tidak seimbang antara BPR dengan bank-bank umum dan asing.

Ketua DPD Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo) Jatim, FX Soegeng Notodihardjo, Selasa (1/9) mengakui, keberadaan ribuan BPR tersebut terancam dengan hadirnya bank-bank umum yang terus menerus ekspansi dan “mengambil” nasabah yang telah dibina BPR selama bertahun-tahun.

Atas kondisi itu, katanya, otoritas perbankan yakni Bank Indonesia (BI) lebih peduli melakukan berbagai bentuk perlindungan pada BPR agar keberlanjutan dan keberadaan bank kecil ini dapat dipertahankan.

Yang dihadapi BPR dengan bank umum saat ini, tidak saja persaingan dalam mencari nasabah, namun juga persaingan dalam hal pendanaan.

“Sudah menjadi rahasia umum deposan BPR umumnya terkonsentrasi pada sebagian kecil nasabah yang punya hubungan bisnis atau sosial, sekarang juga menjadi sasaran bank umum,” tegasnya.

Soegeng mengatakan, saat ini juga terjadi “gerilya” untuk mempengaruhi nasabah besar BPR dengan berbagai cara, namun sampai sekarang tidak ada tindakan atas pelanggaran tersebut.

Menurut dia, yang lebih parah, persaingan paling serius sekarang ini adalah masuknya bank umum ke pasar usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) tanpa melakukan pengembangan, artinya bank umum melakukan ekspansi, tetapi tidak pernah mengembangkan pasar UMKM sehingga bisa dikatakan “makan kue” yang selama ini menjadi porsi BPR.

Oleh karena itu, tegasnya, perlu adanya regulasi jumlah minimal kredit yang dapat diberikan bank umum.

“BPR bukan membutuhkan subsidi, tetapi memerlukan perlindungan dari persaingan yang tidak seimbang dan lebih adil,” tegasnya.

Ia mengemukakan, langkah konkrit yang harus dilakukan BI adalah memberikan perlakuan yang setara antara BPR dan bank umum dalam perizinan. BI juga harus menertibkan bank umum yang memberikan suku bunga lebih tinggi dari suku bunga BPR serta pengaturan persaingan kredit UMKM.

Untuk memperkuat kelembagaannya serta memperjuangkan hak-haknya agar mendapat perlakuan adil dari BI, industri perbankan BPR membentuk Forum Lintas DPD Perbarindo se-Indonesia.

Dari pertemuan Perbarindo se-Indonesia itu dihasilkan beberapa kesepakatan di antaranya adalah meminta Menteri Negara BUMN memberikan akses kepada BPR untuk menerima dana program kemitraan dan bina lingkungan (PKBL) yang berasal dari laba BUMN.

Selain itu Perbarindo juga minta agar Kementrian Perumahan Rakyat menjadikan BPR sebagai bank penyalur kredit lunak bantuan perumahan dari pemerintah, Departemen Keuangan mengizinkan BPR menyalurkan kredit usaha rakyat (KUR) serta merelaksasi PP No 39 tahun 2007 tentang pengelolaan uang negara/daerah.

Jumlah BPR di Indonesia yang terdata per 30 Juni 2009 sebanyak 2.627 dengan total aset sebesar Rp 22,7 triliun dengan rincian dari tabungan sebesar Rp 7,35 triliun dan deposito sebesar Rp 15,36 triliun.

Sedangkan jumlah nasabah lebih dari 10 juta dengan rincian tabungan sebanyak 7.020.403 nasabah, deposito 398.646 nasabah dan kredit 2.780.491 nasabah. Total kredit yang telah disalurkan pada masyarakat sebesar Rp 26,39 triliun.

ant/fid

lowongan pekerjaan
PT. Monang' Sianipar Abadi ( MSA KARGO ), informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Bersenang-Senang

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (13/11/2017). Esai ini karya Sholahuddin, Manajer Penelitian dan Pengembangan Harian Solopos. Alamat e-mail penulis adalah sholahuddin@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Belakangan ini terjadi perubahan secara radikal pada lanskap ekonomi dan bisnis di Indonesia. Sektor bisnis konvensional…