Senin, 31 Agustus 2009 12:33 WIB News Share :

DPR minta pemerintah tindak tegas Exxon

Jakarta–Komisi VII DPR minta pemerintah menindak tegas operator Blok Cepu, Mobil Cepu Limited (MCL), anak perusahaan ExxonMobil Oil Indonesia atas keterlambatan produksi minyak blok tersebut.

Demikian disampaikan antara lain anggota Komisi VII DPR Alvin Lie, Dito Ganinduto, dan Effendi Simbolon dalam rapat dengar pendapat Komisi VII DPR dengan Kepala Badan Pelaksana Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) R Priyono di Jakarta, Senin (31/8).

Alvin mengatakan, keterlambatan produksi Lapangan Banyuurip, Blok Cepu di Bojonegoro, Jatim itu akan membuat target penerimaan negara meleset secara signifikan.

Ia juga mengatakan, dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR sebelumnya, ExxonMobil berulang kali mengungkapkan target produksi pada waktu tertentu.

“Namun, sampai sekarang tidak ada hasilnya,” katanya.

Dito mengungkapkan, selama ini, DPR merasa dibohongi dengan target-target produksi yang disampaikan ExxonMobil dan pemerintah.

“Kami minta tindakan tegas agar mengganti saja MCL sebagai operator,” katanya.

Blok Cepu sebenarnya menjadi salah satu andalan pemerintah menambah produksi minyak pada 2009 dan juga seiring menurunnya produksi nasional beberapa tahun belakangan ini.

Namun, produksi pertama minyak Blok Cepu sebesar 20.000 barel per hari berulang kali mundur dari target yang ditetapkan.

Sebelumnya, produksi pertama Cepu ditargetkan pada akhir 2008, namun meleset. Terakhir, produksi ditargetkan mulai Agustus 2009.

Perencanaan produksi Blok Cepu dibagi menjadi dua fase yakni produksi yang dipercepat (early production) dan produksi penuh (full production).

Periode “early production” merupakan target yang diberikan pemerintah kepada operator yakni Mobil Cepu Limited (MCL), anak perusahaan ExxonMobil Oil Indonesia, mempercepat produksi Blok Cepu.

Sesuai skenario, periode “early production” ditargetkan berproduksi sebesar 20.000 barel per hari dan “full production” direncanakan dimulai tiga tahun setelah periode early “production” dengan puncaknya 165.000 barel per hari.

Dengan demikian, jika produksi “early production” baru dimulai tahun ini, maka periode “full production” mulai 2012 atau 2013.

Selama fase pertama hingga kedua yakni antara 2009 sampai 2012-2013, produksi Cepu akan konstan sebanyak 20.000 barel per hari.

Kontrak kerja sama (KKS) Blok Cepu ditandatangani MCL pada 17 September 2005.

Selain MCL yang menguasai 20,5 persen, kepemilikan (partipating interest) Blok Cepu lainnya adalah PT Pertamina EP Cepu 45 persen, Ampolex (Cepu) Pte Ltd (juga anak perusahaan ExxonMobil) 24,5 persen, dan empat BUMD yakni PT Sarana Patra Hulu Cepu 1,091 persen, PT Asri Dharma Sejahtera 4,4847 persen, PT Blora Patragas Hulu 2,182 persen, dan PT Petrogas Jatim Utama Cendana 2,2423 persen.

ant/fid

lowongan pekerjaan
NUSANTARA SAKTI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Vaksinasi dan Herd Immunity

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (16/12/2017). Esai ini karya Riris Andono Ahmad, Direktur Pusat Kedokteran Tropis Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Solopos.com, SOLO–Heboh outbreak penyakit difteri dan rendahnya cakupan imunisasi karena penolakan kelompok anti vaksin menimbulkan keresahan…