Minggu, 30 Agustus 2009 18:22 WIB Wonogiri Share :

Ribuan warga Wonogiri kecam Malaysia

Wonogiri (Espos)–Ribuan warga dari seluruh eleman masyarakat Kota Gaplek berkumpul di Lapangan Kridha Bakti, Minggu (31/8). Terik matahari di bulan Ramadan sepertinya tak dihiraukan seniman, pemuda, pelajar dan budayawan, mereka tak berhenti berteriak mengungkapkan rasa kecewa terhadap Pemerintah Malaysia.

Sejak Pukul 08.00 WIB, konsentrasi massa yang terpusat di jantung Kota Gaplek itu berkumpul untuk berorasi bersama. Mereka menenteng spanduk  mengecam sikap Negeri Jiran yang dinilai tidak sportif dan merampas kebudayaan Indonesia. Tulisan spanduk itu di antaranya, <I>“Malaysia mencuri kebudayaan Indonesia, Ganyang Malaysia, Malaysia eksportir teroris, Indonesia importir artis”<I>.

Rasa kecewa ribuan massa tersebut tidak dapat disembunyikan, ketika Indonesia dituding dunia sebagai negara teroris. Menurut siswi SMK Sudirman I Wonogiri, Lalifatul dan Maya Antika, meskipun negara serumpun tidak lantas mereka dapat seenaknya mengklaim kebudayaan Indonesia. Tudingan dunia terhadap Indonesia sebagai negara teroris mencoreng citra bangsa sebagai negara <I>adiluhung<I> dan ramah.

“Sedih, karena ini bukan kali pertama Malaysia bertindak curang,” jelas dia.
Meskipun telah ada ungkapan maaf dari managemen yang menyertakan tari Pendet sebagai ikon iklan Malaysia. Namun buntut panjang dari kejadian tersebut seperti pelecehan lirik lagu Indonesia Raya di internet membuat masyarakat Indonesia naik pitam. Menurut salah seorang Budayawan asal Tegal, Ki Enthus Susmono, pelecehan lambang kesatuan dan persatuan bangsa seperti bendera maupun lagu kebangsaan tidak ubahnya seperti perang secara fisik. “Masyarakat Indonesia tidak terima dan meminta Pemerintah Malaysia minta maaf secara resmi,” jelas dia.

Lagu Indonesia Raya dan Maju Tak Gentar berkumandang, massa menyanyikan lagu itu secara serempak. Sajian tari Kethek Ogleng, Reog dan Bedhaya Tumuruning Wahyu Katresnan pun mengisyaratkan ungkapan rasa marah, kecewa dan prihatin.

Sementara itu Bupati Wonogiri yang juga Ketua Paguyuban Reog Indonesia, Begug Poernomosidi mendesak pemerintah Indonesia menekan Pemerintah Malaysia untuk mengembalikan aset kebudayaan dan kesenian bangsa. Jika dalam waktu dua bulan pemerintah Malaysia tidak bergeming atas tuntutan itu, pihaknya mengancam melakukan demonstrasi dengan mengerahkan massa sejumlah 5.000 hingga 10.000 orang ke Kantor Kedutaan Besar Malaysia di Jakarta.

Begug mengaku prihatin dan kecewa atas sikap dan perilaku pemerintah Malaysia yang berulangkali melakukan klaim atas hasil karya cipta Indonesia. Dia mengatakan, sebelumnya kesenian reog sempat diklaim Malaysia telah berhasil diselamatkan, untuk itu pemerintah Indonesia harus tegas dan melakukan upaya perlindungan agar aset kebudayaan tidak diambil negara lain.

“Klaim yang dilakukan itu tidak logis, jika benar hasil kerajinan itu dari Malaysia silakan dicoba apakah masyarakat mereka dapat membuat kerajinan tersebut,” ungkap dia ketika dijumpai wartawan seusai pernyataan sikap di Lapangan Kridha Bakti Wonogiri, Minggu (30/8).

Sedikitnya ada 20 ragam aset bangsa berupa naskah kuno, lagu daerah, motif batik, alat musik yang diklaim menjadi aset Malaysia. Dia menyatakan selama dua bulan Pemerintah Malaysia diminta mengembalikan sejumlah aset tersebut tanpa terkecuali. Menurutnya, apabila tuntutan tersebut tidak dipenuhi maka pihaknya akan melakukan pengerahan massa ke Kantor Duta Besar Malaysia di Jakarta.

“Saya tidak main-main dalam hal ini, aset kebudayaan Indonesia harus kembali di bumi Pertiwi,” tegasnya.

Selain itu, pihaknya mengecam penyiksaan tenaga kerja Indonesia (TKI) di Malaysia. Dia mengatakan, pemerintah Malaysia harus minta maaf atas pelecehan lagu kebangsaan Indonesia Raya. “Jika pemerintah Indonesia menyatakan perang, kami siap untuk maju perang,” papar dia.

Menurut Ketua Sementara DPRD Wonogiri, Wawan Setya Nugraha, pemerintah Indonesia harus tegas melakukan perlindungan terhadap aset Indonesia salah satunya dengan mengupayakan hal paten. Dia mengatakan, bagaimana bisa Malaysia dengan mudah melakukan klaim terhadap kebudayaan Indonesia. “Ini tidak pertama kali terjadi, pemerintah Indonesia harus tegas,” jelasnya.

Tuntutan
1. Menyerahkan Ambalat ke NKRI
2. Menyerahkan teroris dari Malaysia ke Indonesia untuk dimintai pertanggungjawaban
3. Permohonan maaf atas pelecehan lagu kebangsaan Indonesia Raya
4. Penghentian Penyiksaan terhadap TKI yang bekerja di Malaysia
Aset-aset budaya yang harus dikembalikan
 Jenis asal daerah
1. Naskah kuno Riau
2. Naskah Kuno Sumatera Barat
3. Naskah kuno Sulawesi Selatan
4. Naskah Kuno Sulawesi Tenggara
5. Masakan Rendang Sumatera Barat
6. Lagu rasa sayang-sayang Maluku
7. Lagu Soleram Riau
8. Lagu Injit-injit semut Jambi
9. Alat musik gamelan Jawa
10. Tari Kuda Lumping Jawa Timur
11. Lagu Kakak Tua Maluku
12. Lagu Anak Kambing Saya Nusa Tenggara
13. Motif batik parang Yogyakarta
14. Badik Tumbuk lada Riau
15. Tari Piring Sumatera Barat
16. Musik Indang Sungai Garinggiang Sumatera Barat
17. Kain Ulos Batak
18. Alat musik angklung Jawa Barat
19. Lagu Jali-jali Betawi
20. Tari Pendet Bali

 

das

lowongan pekerjaan
CV MITRA RAJASA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Musik untuk Palestina

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (12/12/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pendengar musik metal ala Timur Tengah. Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, bikin masalah lagi….