Sabtu, 29 Agustus 2009 17:34 WIB News Share :

Din
Terorisme bukan semata-mata ideologi

Surabaya–Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Din Syamsuddin menilai, terorisme bukan semata-mata menyangkut aspek ideologi.

“Terorisme bukan semata-mata ideologi, tapi juga kesenjangan dan ketidakadilan,” katanya setelah berbicara dalam Kajian Ramadhan PW Muhammadiyah di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, Sabtu (29/8).

Orang nomor satu di Muhammadiyah untuk periode 2005-2010 itu menyatakan, Muhamadiyah sudah menghadapinya dengan menyebarkan paham keagamaan yang moderat yang mengutamakan prinsip rahmatan lil alamin dan kasih sayang.

“Karena itu, kalau pemerintah juga ingin memotong pertumbuhannya, maka pemerintah harus memotong akar terorisme dari aspek keadilan dan kesenjangan. Jangan melakukan tindakan kontraproduktif seperti pengawasan dakwah yang justru menimbulkan ketegangan baru,” katanya menegaskan.

Menurut Presiden “Asian Conference of Religions for Peace” (ACRP) itu, penanganan tersangka terorisme juga perlu diusahakan tidak sampai melanggar HAM.

“Misalnya, kasus penggerebekan di Temanggung itu seharusnya dengan data yang akurat dan mungkin perlu pendekatan dengan gas air mata, jangan langsung dengan ribuan peluru,” katanya.

Selain itu, tutur Din, yang juga Presiden Kehormatan dari “World Conference of Religions for Peace” (WCRP) itu, pemerintah juga tidak perlu menggeneralisasikan lembaga keagamaan memiliki keterkaitan dengan terorisme.

“Jangan menegakkan hukum dengan melanggar hukum, sehingga ada Pesantren Muhammadiyah yang diperlakukan seperti sarang teroris. Kalau memang menyangkut Muhammadiyah, pemerintah perlu mengajak pimpinan Muhammadiyah bekerja sama melakukan penyelidikan,” ucapnya.

Ditanya ihtiar Muhammadiyah dalam mengantisipasi penyusupan kelompok radikal ke tubuh ormas yang sudah tua itu, Din Syamsuddin yang alumni IAIN Jakarta dan University of California at Los Angeles (UCLA) di Amerika Serikat (S2 dan S3) itu mengemukakan, pemikiran radikal itu tidak laku di Muhammadiyah.

“Kalau ada orang luar atau orang dalam yang berusaha menyusupkan pemikiran radikal ke dalam Muhammadiyah, ya pasti akan tersingkir dengan sendirinya, karena habitat Muhammadiyah itu sudah kuat,” katanya.

Oleh karena itu, pihaknya akan membahas konsolidasi pemikiran dalam Muktamar ke-100 Muhammadiyah di Yogyakarta pada 3-8 Juli 2010.

“Konsolidasi pemikiran itu menyangkut pemikiran tabligh, salafiah, tarbiyah, khilafah, dan sebagainya yang ada di tubuh Muhammadiyah. Semuanya perlu didialogkan untuk menghargai kemajemukan dalam NKRI,” paparnya.

ant/fid

lowongan pekerjaan
ADMINISTRASI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Solusi Kemanusiaan untuk Jerusalem

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (13/12/2017). Esai ini karya Mudhofir Abdullah, Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah mudhofir1527@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pernyataan sepihak Presiden Amerika Serikat Donald Trump atas Jerusalem sebagai ibu kota Israel yang…