Kamis, 27 Agustus 2009 19:58 WIB News Share :

Sejumlah Rp 16 triliun potensi zakat belum tergarap

Jakarta–Diperkirakan terdapat sejumlan Rp16 triliun potensi zakat yang belum digarap secara serius sehingga diperlukan sosialisasi dan pola diseminasi informasi yang efektif agar potensi itu tidak sirna.

Wakil Ketua Baznas Naharus Surur dan Dirut LKBN ANTARA A Mukhlis Yusuf pada “talkshow” Bincang ANTARA (Bicara) di Jakarta, Kamis, menyatakan potensi zakat di Indonesia sebesar Rp 19,3 triliun dan baru tergarap sekitar Rp3 triliun.

Program Bicara di Sun TV dipandu oleh Bahrul Alam mengangkat tema “Zakat Untuk Kesejahteraan Umat” itu akan disiarkan pada Minggu (30/8) pukul 20.00 dan disiarkan secara serentak di 15 TV lokal.

Naharus menjelaskan, zakat sebagai suatu kewajiban bagi muslimin memiliki karakteristik berbeda dengan ibadah lainnya, seperti shalat dan haji. Jika shalat dan haji lebih pada kepentingan orang yang menjalankannya, sedangkan zakat memiliki dimensi sosial dan ekonomi, disamping manfaatkan bagi yang melaksanakannya.

Dari dimensi sosial, zakat dapat menciptakan hubungan harmonis antara masyarakat yang berpunya dan yang tidak berpunya. Sementara dari segi ekonomi, menjadikan potensi keuangan masyarakat menyebar, tidak menumpuk pada golongan tertentu (kaya) saja.

Ibadah itu juga mengingatkan kaum muslimin untuk menjadikan kekayaannya sebagai modal aktif, jika tidak, atau disimpan di bank saja, maka akan berkurang untuk membayar zakat setiap tahun. Mengenai besarannya, Naharus menjelaskan bahwa hal itu terkait dengan jenis kekayaannya. Zakat mal berbeda dengan zakat pertanian, atau hewan ternak.

Pada bagian lain, dia juga menyebutkan bahwa mereka yang berzakat dan berinfaq dan sedekah dapat dikategorikan dalam tiga tipe. Tipe pertama, mereka yang melaksanakannya secara rutin, kedua yang tidak rutin, sedangkan tipe terakhir yang melaksanakannya sekali-kali.

Sementara daerah yang potensi zakatnya terbesar ada di pulau Jawa. Menyinggung tentang kelemahan program zakat, infak dan sedekah selama ini, Naharus dan Mukhlis sepakat bahwa kurangnya sosialisasi dan mafaat zakat menjadi kendala utama. Mukhlis mengatakan kesadaran untuk berzakat, infak dan sedekah masih rendah karena belum ada kepedulian, dan juga masih muncul keraguan atas pemanfaatan dana masyarakat tersebut.

Karena itu Baznas setiap tahun melakukan audit atas pengelolaan dana tersebut agar bisa dipertanggungjawabkan dan dipercaya oleh masyarakat. Untuk menjawab lemahnya sosialisasi program zakat, Mukhlis mengatakan bahwa bahwa Baznas sudah menyepakati untuk menjadikan sebagian dana infak untuk keperluan sosialisasi.

Dana tersebut digunakan untuk membangun jejaring Baznas. “Semua jejaring itu  menjadi mitra Biro ANTARA di di daerah,” kata Mukhlis.

Pada tanggal 14 Agustus ini akan diluncurkan pengumpulan zakat di lingkungan LKBN ANTARA sebagai model untuk kegiatan yang sama di kantor-kantor yang lain.  Dia juga mengatakan akan dilakukan inovasi sosialisasi dengan memperbanyak kesaksian kaum muslimin atas manfaat yang didapatnya setelah membayar zakat, begitu juga dengan kesaksian atas mereka yang menerima zakat.

“Tujuan kami untuk menciptakan kesadaran dimana zakat menjadi kebutuhan, bukan sekadar kewajiban, serta mengubah penerima menjadi pemberi zakat. Dengan kata lain, mengubah masyarakat miskin dapat hidup layak setelah memanfaatkan dana zakat, infaq dan sedekah,” kata Mukhlis.
Ant/tya

lowongan pekerjaan
PT. DISTRIVERSA BUANAMAS, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Musik untuk Palestina

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (12/12/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pendengar musik metal ala Timur Tengah. Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, bikin masalah lagi….