Kamis, 27 Agustus 2009 18:31 WIB News Share :

Polri bantah diskriminasi dalam beri informasi terorisme

Jakarta–Kepala Divisi Humas Markas Besar Polri Irjen Pol Nanan Soekarna membantah pihaknya mendiskriminasi dalam memberikan informasi terkait kasus-kasus terorisme yang marak belakangan ini. Hal tersebut diungkapkannya menanggapi tayangan yang diakui ekslusif pada kasus terorisme seperti saat peledakan bom di Hotel Ritz-Carlton dan JW Marriott dan pengepungan pada sebuah rumah di dusun Beji, Temanggung, Jawa Tengah.

“Sistem tidak ada yang pernah membedakan, semua media sama,” ujarnya saat menjadi pembicara dalam diskusi “Etika Pers Dalam Meliput Terorisme” di Gedung Dewan Pers, Jakarta, Kamis (27/8).

Ia menuturkan, pihaknya telah melarang media massa meliput dalam jarak dekat.

“Dari jarak 500 meter sudah disetop,” ucapnya. Tayangan-tayang tersebut, kata Nanan, bisa saja diperoleh dari oknum kepolisian yang ingin tampil di depan publik.

Nanan menuturkan, di lokasi kejadian seperti Hotel JW Marriott, Ritz-Carlton ataupun Temanggung, ia mengumpulkan telepon seluler milik jajarannya.
“Semua BlackBerry termasuk punya saya dikumpulkan. Agar tidak ada gambar atau informasi yang keluar,” jelas Nanan.

Selanjutnya ia mengatakan, tempat kejadian perkara (TKP) juga tidak dapat diambil gambarnya. Jika TKP dimasuki banyak pihak, akan terjadi perubahan yang mengganggu olah TKP. Selain itu, dikhawatirkan juga masih terdapat barang-barang yang membahayakan.

“TKP tidak boleh di-shoot, jangankan pers, Kapolri pun enggak bisa. Takut ada yang membahayakan,” ucapnya.

Lebih jauh Nanan mengatakan, dirinya sama sekali tidak berniat untuk membatasi diri dengan media. Pada dasarnya ia ingin membagi semua informasi yang ia punyai, tetapi hal tersebut terganjal peraturan yang ada. Ia mengatakan, sering kali pihaknya direpotkan dengan tindakan media.

Media gencar memberitakan lokasi-lokasi yang diduga menjadi tempat persembunyian para teroris. Padahal, beberapa lokasi itu sebenarnya sudah lama diintai. Awalnya pihak kepolisian ingin mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya terlebih dulu. Namun, media marak memberitakannya sehingga pihak kepolisian pun mengepung lokasi tersebut.

“Daripada lepas, tapi sebenarnya ingin mengumpulkan informasi yang lengkap,” ucap dia.

kompas/fid

lowongan pekerjaan
EDITOR MATEMATIKA (Fulltime), informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Musik untuk Palestina

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (12/12/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pendengar musik metal ala Timur Tengah. Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, bikin masalah lagi….