Selasa, 25 Agustus 2009 16:48 WIB Solo Share :

1 September, tarif darah PMI Solo naik

Solo (Espos)–Tarif darah PMI Solo akhirnya resmi dinaikkan dari Rp 155.000 menjadi Rp 225.000 per kantong mulai Selasa depan (1/9).

Kenaikan tarif tersebut buntut dari terus membengkaknya biaya produksi dan pengolahan darah (BPPD) PMI sejak terjadi krisis global setahun ini.

Kepala Tranfusi Darah PMI Solo, Titis Wahyudiono menjelaskan, kenaikan tersebut sudah mendapatkan persetujuan dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Titis meminta warga masyarakat bisa memaklumi kenaikan tarif darah yang mencapai Rp 70.000 per kantong tersebut.

Pasalnya, uang kas PMI selama ini telah ludes lantaran setiap bulannya harus menanggung beban subsidi olah darah senilai Rp 50 juta. Meski demikian, lanjut Titis, warga yang tak mampu tak perlu cemas karena darah tersebut bisa diperoleh dengan gratis.

“Dengan menunjukkan surat keterangan atau bukti bahwa warga tersebut berasal dari keluarga kurang mampu maka mereka bisa mendaptkan darah PMI dengan gratis,” ujarnya kepada Espos, Selasa (25/8).

Lebih jauh dia menjelaskan, pemberlakuan kenaikan tarif darah PMI tersebut berlaku secara serentak se-Provinsi Jawa Tengah.  PMI Solo yang setiap harinya terdapat permintaan 200-300 kantong darah tersebut diharapkan mampu melayani semua warga masyarakat yang membutukan darah di berbagai daerah se-Soloraya.

“Karena kami masih memiliki stok darah aman,” paparnya.

Sebelumnya, Sekretaris PMI cabang Solo, Sumartono Hadinoto, mengungkapkan sebagai imbas dari krisis ekonomi Oktober 2008 lalu, BPPD di PMI naik secara signifikan dari semula  Rp 100.000/kantong menjadi Rp 151.000/kantong. Biaya sebanyak itu belum termasuk biaya administrasi, pemeliharaan, penyusutan dan pengembangan. Akibatnya, selisih antara biaya produksi dan pengolahan darah dengan plafon BPPD Provinsi hampir tidak seimbang.

asa

lowongan pekerjaan
PT.ARUTAMA BUMI STILINDO, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…