Senin, 24 Agustus 2009 09:55 WIB Ah Tenane Share :

Tragedi steak

24koploKisah kita kali ini tentang tragedi steak. Ceritane, Tom Gembus, Jon Koplo, Gendhuk Nicole dan Lady Cempluk adalah empat sekawan yang telah bersahabat sejak kecil. Setelah lulus sekolah, mereka dipisahkan oleh pekerjaan masing-masing.

Gembus menjadi guru di Solo, Gendhuk Nicole ikut berdagang pakaian sama kakaknya, Cempluk bekerja di toko konter HP dan yang paling jauh kerjanya adalah Jon Koplo . Koplo bekerja di negeri Sakura, Jepang.

Praktis, mereka berempat hanya bisa berkomunikasi lewat HP. Tiga tahun sudah mereka berpisah, ada kabar baik dari Jepang, Koplo akan pulang ke negeri tercinta. Bagi-bagi tugas menyambut pahlawan devisa pun dilakukan. Ada yang dapat tugas menjemput di Bandara Adisucipto Yogyakarta dan ada yang membuat acara penyambutan (kejutan selamat datang) di salah satu rumah makan steak di selatan eks Pasar Purwosari, Solo.

Tangis haru bahagia, pelukan kangen terjadi di Bandara Yogyakarta. ”Weh, suwe ra ketemu piye kabare, Nda?” tanya Gembus membuka percakapan di mobil yang menuju Donohudan, Boyolali itu.

”Alikato kamikaze, baik-baik ta friend… he… he,” jawab Koplo sambil bercanda.

Sampai di perempatan Kartasura, mobil tidak belok ke utara arah Donohudan tapi terus ke timur arah Solo. ”Ini wis luwe friend…, terus terang wae iki ora langsung mulih neng Donohudan, nanging bablas ke Solo Tokyo dulu cari makan steak sesuai dengan kesepakatan kita dan putri Kaisar Lady Cempluk yang sudah menunggu di RM steak Purwosari sana,” Gembus menjelaskan pada Koplo dengan logat ala orang Jepang.

”Horok, mangan steak aku wis biasa Nda, neng Jepang akeh, tenang wae, mengko mangan steak sak pole, duit Yen ku akeh ki, arep ngge apa?” kata Koplo sambil bercanda sombong.

Singkat cerita, sampailah mereka di RM steak Purwosari. Chicken steak dua, beef steak dua, soft drink empat, pesanan mereka. Sambil menunggu pesanan, mereka ngobrol ngalor-ngidul, saling pace mengingat masa lalu mereka.

Setelah pesanan jadi dan diantar pelayan di atas meja mereka ternyata ada yang salah posisi. Cempluk minta beef steak yang telanjur ditaruh di depan Koplo. Nah lucunya Koplo belum tahu nampan steak memang panas. Dipegangnya nampan panas itu seketika untuk digeserkan ke hadapan Cempluk.

”Waduh… panaaasss,” spontan tangan Koplo njondil kepanasan.

”Ha… ha… ha. Cah Jepang, kena batunya,” tawa mereka kompak.

”Di Jepang modele steak ora ngene ki cah, asem ra gelem ngandani,” kata Koplo pringas-pringis malu sambil membela diri.

Kiriman Muflih Muhammad Diah, Dibal RT 01/RW V, Ngemplak, Boyolali.

lowongan pekerjaan
CV MITRA RAJASA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Intelek Banal Kampus Milenial

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (9/12/2107). Esai ini karya Adi Putra Surya Wardhana, alumnus Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah adiputra.48697@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Beberapa waktu lalu beberapa kawan yang menempuh…