Minggu, 23 Agustus 2009 20:35 WIB Sukoharjo Share :

Meski suplai air mandek,petani nekat garap lahan

 

Sukoharjo (Espos)–Sejumlah petani di Desa Duwet, Baki nekat menggarap lahan pertanian mereka, kendati suplai air dari saluran irigasi sudah mandek sejak beberapa waktu lalu. Agar lebih menghemat kebutuhan air, para petani setempat memilih menanam palawija seperti jagung atau wijen.

Namun demikian, beberapa petani memberanikan diri menanam padi dengan harapan hasil panen nilainya tinggi sehingga bisa menutup biaya yang dikeluarkan. Darno, 60, petani asal Nolobayan, Duwet, Minggu (23/8), menuturkan, pengairan sawah sepenuhnya mengandalkan air tanah yang disedot dengan mesin disel.

“Air irigasi sudah kering sejak sebulan lalu. Karena hujan tak turun, jalan satu-satunya ya menyedot air tanah,” jelasnya di Duwet. Dia mengungkapkan, untuk mengairi lahan jagung seluas satu hektare yang berumur satu bulan, dirinya sudah menghabiskan biaya Rp 500.000 guna membeli bahan bakar disel.

Darno menjelaskan, sebagian besar petani di desanya memilih memberakan lahan selama musim kemarau karena biaya untuk menyedot air cukup besar. “Kebetulan saya punya mesin disel sendiri sehingga kalau ingin menyedot air tinggal membeli solar. Lebih hemat dibanding petani yang menyewa disel,” jelasnya.

Sementara, Wongso Sumarto, 74, petani di Duwet lainnya mengaku memilih menanam wijen karena hanya perlu tiga kali <I>ngelepi<I> hingga panen. Dijelaskan dia, biaya yang dikeluarkan untuk sekali mengairi lahan wijen seluas 2.300 meter persegi sebesar Rp 100.000 atau Rp 300.000 hingga masa panen.

Untuk mengurangi penguapan air, lelaki paruh baya itu menggunakan selang yang dihubungkan dengan mesin penyedot air. “Kalau air dialirkan melalui saluran mudah sekali menguap sehingga boros karena belum sampai ke pinggir sudah kering. Kalau pakai selang, air bisa diratakan dan tak banyak yang terbuang,” urainya.

rei

lowongan pekerjaan
AYAM BAKAR KQ 5, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Intelek Banal Kampus Milenial

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (9/12/2107). Esai ini karya Adi Putra Surya Wardhana, alumnus Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah adiputra.48697@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Beberapa waktu lalu beberapa kawan yang menempuh…