Minggu, 23 Agustus 2009 16:16 WIB News Share :

Anas
Tim khusus SBY untuk konsolidasi isu

Jakarta–Pembentukan tim khusus Menegakkan Kebenaran dan Keadilan (MKK) oleh Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono pada awal 2007 dimaksudkan untuk mengelola isu-isu politik yang berkembang menjelang pemilu legislatif dan pilpres.

“Intinya tim MKK adalah forum kerja untuk konsolidasi isu, dengan semangat menegakkan kebenaran dan keadilan,” kata Ketua DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum, yang juga anggota MKK di Jakarta, Minggu.

Menurut dia, pembentukan MKK waktu itu dilakukan karena dirasakan bahwa isu-isu yang negatif dan memojokkan pemerintah dan SBY sangat menonjol.

“Karena itu perlu dilakukan konsolidasi isu yakni dengan memproduksi isu-isu produktif dan obyektif yang membantu citra pemerintah dan melawan isu-isu negatif yang memojokkan pemerintah dengan dasar data dan informasi yang benar dan bisa dipertanggungjawabkan,” katanya.

Dengan melontarkan isu positif itu, lanjutnya wacana yang berkembang menjadi semakin adil dan benar.

“Jangan sampai wacana yang tidak benar menjadi dipercaya rakyat sebagai kebenaran,” katanya.

Sebelumnya, seorang anggota MKK yang tidak mau disebutkan namanya menjelaskan bahwa SBY membentuk tim ini sebagai “think tank” untuk menggodok kontra opini, memberi masukan kepada SBY dan menganalisa perkembangan politik termasuk melakukan lobi politik serta mendukung kerja Partai Demokrat terutama dalam penggalangan opini.

Dikatakannya, tim itu dipimpin oleh Seskab Sudi Silalahi dengan anggota antara lain Khoirin (staf khusus Sudi), Sardan Marbun (staf khusus Presiden), Ide Zakaria (staf khusus Sudi), Anas Urbaningrum, Andi Arief (sekjen Jaringan Nusantara), Andi Malarangeng (Ketua Departemen PD/Jubir Presiden), Darwin Saleh (Ketua Bidang Ekonomi PD), Ramadhan Pohan (wartawan), Aam Sapulete (Ketua Jaringan Nusantara), Heri Sebayang (mantan aktivis mahasiswa, Imelda (wartawan) dan Zaenal (tim citra).

Setahun kemudian SBY menambah beberapa orang untuk bergabung yaitu Irvan Edison (staf khusus Presiden), Jali Yusuf (staf khusus Presiden), Taufik Rahzen (budayawan) dan Endu Sumarsono (Barindo).

Menurutnya, tim MKK itu anggotanya dipilih sendiri oleh SBY dan bersifat sangat tertutup, sehingga tidak ada anggota Partai Demokrat yang di luar tim ini yang tahu keberadaan tim tersebut.

Dikatakan sumber itu, tim khusus ini selalu merancang kerjanya di markas Jl Panarukan Menteng Jakarta setiap hari dan berkali-kali mereka dipanggil atau memberikan laporan kerja dan masukannya kepada SBY di rumah pribadi SBY Puri Cikeas Bogor.

“SBY tidak pernah ke markas Panarukan, kami yang sering dikumpulkan di Cikeas berkali-kali. Hebatnya kalau rapat di Cikeas ajudan pribadi presiden saja tidak boleh mendengar. Anggota MKK juga tidak ada yang TNI aktif,” katanya.

Dalam kerjanya tim MKK berhasil mendeteksi opini hitam atau “black campaign” yang disebarkan para capres/cawapres lain seperti Wiranto dan Megawati Soekarnoputri dan sempat mendeteksi kecenderungan tim media dari JK yang berupaya mendongkrak popularitas JK dengan mendominasi pemberitaan media.

“Jadi tim ini sudah mencium gelagat bahwa JK akan mencalonkan diri menjadi presiden sejak dua tahun lalu,” katanya.

 

Ant/tya

lowongan pekerjaan
PT. SEJAHTERA MOTOR GEMILANG, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Musik untuk Palestina

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (12/12/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pendengar musik metal ala Timur Tengah. Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, bikin masalah lagi….