Selasa, 18 Agustus 2009 19:09 WIB Karanganyar Share :

Air sulit didapat, petani mulai membuat sumur bor

Karanganyar (Espos)–Sejumlah petani di Bumi Intanpari mulai bangun sumur bor, menyusul datangnya musim kemarau dan petani mulai kesulitan mendapatkan sumber pengairan bagi sawah mereka.

Seperti disampaikan salah satu petani asal Kebonagung RT 6/RW V, Suruh, Tasikmadu, Lamin. Sudah dua pekan ini ia berupaya merampungkan pembuatan sumur bor sedalam 90 meter, yang bisa dimanfaatkan untuk mengairi sawah seluas 3 hektare. “Saat ini, areal sawah kami mulai kesulitan mendapatkan air. Sungai Sejepit biasanya menjadi sumber pengairan kami. Tetapi, terakhir mengalir ke sawah sepekan lalu,” tutur Lamin, saat ditemui <I>Espos<I> di sela-sela aktivitasnya di sawah, Selasa (18/8).

Jadi, lanjutnya, sejumlah petani mulai menyikapi dengan pembuatan sumur bor. Karena, usia padi yang saat ini ia tanam, baru berumur sekitar 40 hingga 50 hari setelah tanam (HST). Harapannya, sumur ini bisa dimanfaatkan beberapa petani. Tidak hanya musim kemarau kali ini, tetapi juga musim kemarau mendatang. Musim kemarau saat ini saja, lanjutnya, sudah ada sekitar 10 unit sumur bor yang dibangun petani untuk  bisa mengairi sawah.

Senada disampaikan petani lain asal Pendemwetan RT 1/RW V, Suruh, Tasikmadu, Slamet. Ia mengatakan, justru di areal persawahannya sudah tidak ada lagi bantuan sumber pengairan dari sungai. Air sungai sudah tidak ada yang bisa mengalir ke sawahnya. Sehingga, sumur bor dan pompa kembali ia fungsikan lagi. Sumur bor yang ia miliki diperkirakan bisa mengairi sawah seluas empat hingga lima hektare.

“Kedalaman sumur kira-kira 100-an meter. Atau bisa terus mengalir dua hingga tiga hari,” tuturnya. Diakuinya, setiap musim kemarau biaya produksi padi mengalami kenaikan. Karena, salah satunya untuk membeli bahan bakar solar guna mengoperasikan pompa. “Untuk mengairi sawah dengan usia tanaman sekitar dua bulan, 50 HST dan 40 HST, saya sudah habis uang sekitar Rp 2 juta hanya untuk membeli solar.”

Jika tidak demikian, tuturnya, maka sangat disayangkan jika hasil produksi padi pada musim tanam kali ini gagal.
haw

lowongan pekerjaan
AYAM BAKAR KQ 5, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Bersama-Sama Mengawasi APBD

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (8/12/2017). Esai ini karya Doddy Salman, mahasiswa S3 Kajian Budaya dan Media Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah doddy90@yahoo.com Solopos.com, SOLO–DPRD DKI Jakarta mengesahkan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) tahun anggaran…