Sabtu, 15 Agustus 2009 13:54 WIB News Share :

Pesawat Mandala jurusan Batam-Surabaya delay 20 jam

Batam–Jadwal keberangkatan pesawat milik maskapai penerbangan Mandala rute Batam-Surabaya bernomor penerbangan RI 191 tertunda sekitar 20 jam akibat masalah teknis.

“Mandala RI 191 seharusnya terbang kemarin (Jumat) pukul 17.25 WIB, diundur ke hari ini (Sabtu), pukul 13.30 WIB,” kata Head Coorporate Communication Mandala Airlines, Trisia Megawati, Sabtu (15/6).

Ia menjelaskan, Mandala terpaksa menunda keberangkatan pesawat itu karena kerusakan pesawat dan membutuhkan pergantian suku cadang. Diperkirakan, pesawat tersebut bisa terbang pada pukul Sabtu (15/8) 13.30 WIB.

Mandala, kata dia, mengutamakan keselamatan penerbangan, sehingga memilih menunda keberangkatan sampai kondisi pesawat dinyatakan layak terbang, sesuai dengan standar Uni Eropa.

“Mandala berkomitmen terhadap keselamatan dan selalu memastikan pesawat dalam kondisi layak terbang,” kata dia.

Kepada penumpang yang merasa dirugikan, Mandala memberikan kompensasi, makanan dan minuman, juga akomodasi hotel, sesuai KM 25 tahun 2008.

Selain itu, kepada penumpang yang ingin membatalkan penerbangan, Mandala juga memberikan uang kembali.

Mandala, kata dia, juga memberikan kesempatan kepada penumpang yang ingin menjadwalkan ulang penerbangan mereka.

“Bahkan, untuk penumpang yang membeli asuransi Mandala PlusGuard, akan mendapatkan uang tunai Rp 200.000, setiap dua jam dan kelipatannya.

Sementara itu, sekitar 180 penumpang Mandala RI 191 merasa dirugikan akibat penundaan jadwal keberangkatan.

Penumpang sepakat meminta uang ganti rugi Rp 1,5 juta bila pesawat berangkat Sabtu (15/8) pukul 13.30 WIB, dan Rp 3 juta jika jadwal tersebut tertunda kembali.

“Kami benar-benar dirugikan, karena ada urusan bisnis yang terganggu,” kata warga Singapura Aliong.

Di tempat yang sama, penumpang Didik mengatakan harus ada ganti rugi yang sepadan karena merasa terlantar 20 jam.

Seharusnya, kata dia, Mandala memberitahu pesawat tertunda hingga satu hari, sehingga penumpang bisa pulang ke rumah untuk mengerjakan yang lain.
“Bukannya menunggu tanpa kejelasan di bandara,” kata dia.

Didik, yang bertujuan ke Malang untuk menengok anak pertama yang baru lahir merasa sangat ditelantarkan.

“Kita butuh waktu. Seharusnya saya menunggui istri saya melahirkan, tapi, sampai anak saya lahir, saya belum bisa terbang juga,” kata dia.

ant/fid

LOWONGAN PEKERJAAN
SUMBER BARU LAND, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Solusi Kemanusiaan untuk Jerusalem

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (13/12/2017). Esai ini karya Mudhofir Abdullah, Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah mudhofir1527@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pernyataan sepihak Presiden Amerika Serikat Donald Trump atas Jerusalem sebagai ibu kota Israel yang…