Jumat, 14 Agustus 2009 17:12 WIB News Share :

MUI
mesjid harus waspada penyusupan teroris

Jakarta–Majelis Ulama Indonesia mengingatkan pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) dan umat Islam untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan penyusupan teroris ke masjid, agar peristiwa di Masjid As Surur, Telaga Kahuripan, Bogor, tidak terulang kembali.

“Kita harus meningkatkan kewaspadaan apabila memanggil ustaz. Kalau ustad yang kita undang bicaranya mengarah ke situ (mengajak menjadi teroris.red) dan membenarkan tindakan jihad dengan cara-cara teror, berarti ia termasuk kelompok itu (teroris.red),” kata Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma’ruf Amin di Jakarta, Jumat (14/8).

Kejadian di Masjid As Surur, kata Ma’ruf Amin, sangat mungkin disebabkan karena umat Islam tidak waspada, sehingga “kecolongan” dengan masuknya seorang ustaz bernama Saefuddin Jaelani (SJ), yang kemudian diketahui sebagai perekrut pelaku bom bunuh diri.

“Karena itu, kita harus waspada, baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Pengurus masjid harus benar-benar waspada terhadap ustad yang akan dipakai di masjid, sehingga tidak terjadi kecolongan,” ujarnya.

Pengurus masjid juga harus melakukan pengawasan secara terus-menerus agar tidak kecolongan. Masjid juga harus meluruskan pemahaman kepada masyarakat, bahwa cara-cara  berjihad melalaui aksi bom bunuh diri tidak bida dibenarkan.

“Itu bukan jihad, itu teror,” katanya.

Menurut KH Ma’ruf Amin, untuk meluruskan pemahaman keagamaan di masyarakat, MUI pada 2003 dan 2004 telah mengeluarkan fatwa tentang pelarangan melakukan kegiatan terorisme, pelarangan melakukan bom bunuh diri, dan pelurusan makna jihad.

Di Masjid As Surur, Telaga Kahuripan, SJ melakukan perekrutan terhadap “marbut” (penjaga masjid) As Surur bernama Dani Dwi Permana (18) untuk menjadi “pengantin” yang meledakkan bom di Hotel JW Marriott, 17 Juli lalu.

Dani Dwi Permana masuk dalam jaringan teroris, setelah tersihir oleh pesona ustaz SJ, yang dikenal oleh jemaah Masjid As Surur sebagai pemuda sangat santun dan baik.

KH Ma’ruf Amin menambahkan, umumnya para pelaku bom bunuh diri belum memiliki ilmu agama yang tinggi, sehingga mereka terjebak dalam pandangan sempit, seperti melakukan jihad dengan bom bunuh diri dan terorisme.

“Agama Islam tidak merestui kekerasan. Islam bukan begitu, teror bukan jihad dan jihad bukan teror,” katanya.

Amin menyangkal jikalau banyak masjid dan pesantren menjadi habitat para teroris, karena pesantren di Indonesia umumnya tidak radikal. Mereka biasanya merekrut orang-orang di luar pesantren, yang memiliki pandangan keagamaan yang dangkal dan sempit.

ant/fid

lowongan pekerjaan
PT.ARUTAMA BUMI STILINDO, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Bersama-Sama Mengawasi APBD

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (8/12/2017). Esai ini karya Doddy Salman, mahasiswa S3 Kajian Budaya dan Media Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah doddy90@yahoo.com Solopos.com, SOLO–DPRD DKI Jakarta mengesahkan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) tahun anggaran…