Rabu, 12 Agustus 2009 14:30 WIB Internasional Share :

Malaysia
Hanya 2 warga terlibat teror di Indonesia

Kuala Lumpur–Kepala Kepolisian Malaysia Musa Hasan memastikan bahwa hanya dua warga Malaysia yang terlibat dalam kegiatan teror di Indonesia yakni almarhum Azahari dan Noordin M Top.

“Kami yakin hanya dua orang itu saja. Tidak ada lagi warga Malaysia yang terlibat kegiatan teror di Indonesia,” kata Musa Hasan dalam jumpa persnya di Kuala Lumpur, Rabu (12/8), terkait dengan acara penyerahan sumbangan kemanusiaan untuk anak-anak Gaza.

Kepala Kepolisian Malaysia itu mengaku telah menerima informasi dari Polri bahwa teroris yang ditembak mati di Temanggung, Jawa Tengah, akhir minggu lalu bukanlah Noordin M Top, berdasarkan DNA dan sidik jari yang diberikan kepolisian Malaysia kepada Polri.

“Kemungkinan Noordin masih bersembunyi di Indonesia. Tapi sejak peristiwa bom di Jakarta, 17 Juli 2009, kontrol keluar masuk orang di perbatasan Malaysia-Indonesia makin diperketat,” tambah dia.

Kepolisian Malaysia juga terus memantau kontak antara Noordin dengan keluarganya di Johor Bahru, termasuk dengan istrinya Rahma dan anak-anaknya.

“Baik percakapan via telepon dan surat sudah tidak ada lagi antara Noordin M Top dengan keluarganya selama enam tahun belakangan ini. Sudah putus komunikasi sama sekali,” katanya.

Kepolisian Malaysia, lanjut Musa Hasan, terus melakukan kerja sama dengan Polri.

“Sebagai contoh, kami membantu mengirimkan DNA istri dan anak-anak Noordin M Top ketika diduga pelaku bom bunuh diri itu adalah Noordin. Kami juga mengirim sidik jarinya serta informasi yang kami terima juga diberikan kepada Polri,” katanya.

“Kami selalu bekerja sama dan berdiskusi erat dengan Polri,” kata Musa Hasan.

Menurut juru bicara keluarga Noordin, Badarudin Ismail, Noordin dan Azahari memang warga Malaysia ingin menjadi “mujahidin” di Kandahar Afghanistan.

Setelah Uni Soviet meninggalkan Afghanistan, maka mereka kembali dan mengajar di UTM (Universitas Teknologi Mara) Johor Bahru dan Institut Lukmanul Hakim.

Azahari dan Noordin M Top kemudian bertemu dengan Amrozi dan Ali Gufron yang sedang belajar di Lukmanul Hakim, Johor. Kedua warga Malaysia itu “mengaku” masuk ke Indonesia untuk “membantu mengatasi”  konflik antara umat Islam dengan  Kristen di Ambon hingga kini.

Namun, Azahari, ahli perakit bom dalam jaringan ini sudah meninggal ketika diserbu polisi di sebuah rumah di kawasan Batu, Malang, Jawa Timur.

ant/fid

LOWONGAN PEKERJAAN
Editor Biologi, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…