Rabu, 12 Agustus 2009 19:11 WIB Solo Share :

Depbudpar
Radya Pustaka belum penuhi standar

Solo (Espos)–Direktorat Permuseuman Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar) menilai Museum Radya Pustaka Solo belum memenuhi standar sebagai sarana penyimpanan dan displai benda-benda peninggalan sejarah. Museum itu kekurangan banyak sumber daya pendukung.

Di antara sumber daya pendukung dimaksud, sebagaimana disebutkan oleh Kasubbag Tata Usaha Direktorat Permuseuman Depbudpar, Susianti, saat melakukan kunjungan ke Museum Radya Pustaka dalam rangka pemetaan museum, Rabu (12/8), adalah tenaga ahli di bidang konservasi, tenaga keamanan, labeling pada benda-benda koleksi yang dipajang, dan alat pengukur kelembapan udara di dalam ruangan museum.

Semua itu, kata Susi, adalah sumber daya standar yang seharusnya dimiliki setiap museum.

Dia mencontohkan, untuk menjaga kebersihan dan mencegah kerusakan benda-benda koleksi, diperlukan tenaga ahli di bidang konservasi. Sementara selama ini di Radya Pustaka hanya dibersihkan dengan cara biasa.

“Kami memaklumi, mungkin karena minimnya anggaran, sehingga semua kebutuhan itu belum bisa terpenuhi. Dalam hal keamanan, saat ini sudah mendingan setelah dipasangnya CCTV di hampir semua sudut museum. Sehingga paling tidak, pengawasan bisa dilakukan 24 jam sehari. Selain itu, penataan dan inventarisasi juga sudah mulai dilakukan,” jelas Susi.

Ditambahkan Susi, sebenarnya bisa saja pemerintah pusat membantu dalam hal pengadaan sumber daya pendukung itu. Namun, hal itu agak sulit karena sekarang sudah otonomi. Sebagai alternatifnya, pihak museum disarankan bekerja sama dengan museum lain. Misalnya, untuk tenaga konservasi, Museum Radya Pustaka bisa bekerja sama dengan Museum Ronggowarsito.

Maksud kedatangan ke Museum Radya Pustaka sendiri, kata Susi, hanyalah untuk pemetaan kondisi museum di Indonesia, untuk dipakai sebagai bahan penentuan kebijakan selanjutnya.

shs

LOWONGAN PEKERJAAN
SUMBER BARU LAND, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…