Senin, 10 Agustus 2009 14:19 WIB News Share :

Antisipasi kebakaran, Perhutani larang pendakian ke gunung di Jateng-DIY

Purwokerto–Sebagai antisipasi kebakaran hutan, sejumlah gunung di Jawa Tengah dan Yogyakarta ditutup untuk pendakian. Padahal, para pecinta alam biasanya menjadikan kawasan pendakian untuk merayakan Hari Kemerdekaan 17 Agustus.

“Kemarau saat ini cukup kering sehingga dikhawatirkan mudah terbakar,” kata Kepala Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah-Yogyakarta, Heru Siswanto, Senin (10/8).

Heru mengatakan hingga saat ini Perhutani belum menerima laporan adanya kebakaran hutan di wilayahnya. Langkah penutupan jalur pendakian gunung diambil untuk mengantisipasi terjadinya kebakaran hutan.

Perhutani menggandeng beberapa pihak seperti universitas dan lembaga masyarakat desa hutan untuk mengantisipasi kebakaran hutan itu. Dari beberapa kasus, kata Heru, kebakaran hutan gunung yang terjadi, sering kali disebabkan oleh kelalaian para pendaki yang meninggalkan api unggun di tengah hutan.

Beberapa hutan gunung yang selama ini sering terbakar, antara lain Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, dan Gunung Slamet.

Sementara Gunung Merbabu yang juga pernah mengalami kebakaran hutan sekitar pertengahan tahun 2008 kemarin, masih menunggu instruksi dari Departemen Kehutanan. Menurut Heru, sejak kawasan gunung itu masuk sebagai Taman Nasional Gunung Merbabu-Merapi, pengelolaannya tidak lagi di bawah Perum Perhutani.

“Makanya, untuk Gunung Merbabu, kami belum tahu akan ditutup atau tidak. Walaupun memang hutan di gunung itu juga pernah mengalami kebakaran,” katanya.

Heru mengatakan, mengantisipasi kebakaran hutan gunung pihaknya telah menyiapkan 1.894 lembaga masyarakat desa hutan (LMDH) di seluruh Jateng yang terdiri dari 2,3 juta keluarga yang difungsikan sebagai satuan tugas pemadam kebakaran hutan.

Secara teknis, kelompok LMDH itu didukung oleh 6.500 polisi hutan dan petugas mobil yang tersebar di 20 kesatuan pemangku hutan yang mengawasi 368.000 hektare hutan di Jateng.

“Para polisi hutan dan petugas mobil ini siaga di areal hutannya masing-masing, dan akan didukung oleh masing-masing satuan pelaksana penanggulangan bencana alam di masing-masing kabupaten,” jelasnya.

Administratur Kesatuan Pemangku Hutan Banyumas Timur Andi Riana mengatakan, pihaknya siaga satu kali 24 jam untuk menerima laporan kebakaran hutan. “Kami siap menerima laporan kebakaran hutan kapan pun. Tenaga telah kami siapkan,” katanya.

tempointeraktif/fid

lowongan pekerjaan
ADMINISTRASI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Intelek Banal Kampus Milenial

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (9/12/2107). Esai ini karya Adi Putra Surya Wardhana, alumnus Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah adiputra.48697@gmail.com. Solopos.com, SOLO¬†— Beberapa waktu lalu beberapa kawan yang menempuh…