Sabtu, 8 Agustus 2009 09:35 WIB News Share :

Tersangka teroris di Jatiasih terlibat 2 bom kuningan

Jakarta–Tersangka kasus terorisme yang ditembak mati di Bekasi, Jawa Barat, Sabtu pagi, terlibat dua ledakan bom di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.

“Mereka terlibat bom Hotel JW Marriott dan Hotel Ritz-Carlton, 17 Juli 2009 serta Kedubes Australia tahun 2004,” kata Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri sebagaimana dikutip juru bicara Polri Brigjen Pol Sulistyo Ishak.

“Mereka berdua itu masuk residivis karena terlibat ledakan di Kedubes Australia juga,” katanya.

Identitas tersangka yang ditembak mati itu adalah Eko Joko Supriyanto dan Air Setiawan.

“Polisi terpaksa menembak mati karena mereka hendak melempar polisi dengan bom,” katanya.

Namun, polisi belum dapat memastikan apakah bom yang akan dilempar itu rakitan atau granat.

Tindakan tembak mati itu dilakukan sebab tindakan kedua orang itu telah membahayakan keselamatan polisi.

Kedua jenazah telah dibawa ke RS Polri Kramat Jati untuk otopsi.

“Mereka sedang mempersiapkan serangan dengan bom mobil tiga pekan lagi,” katanya.

Selain menembak mati dua orang, polisi juga mengamankan barang bukti antara lain ratusan kilogram bahan peledak dan satu mobil.

Selain di Bekasi, Polri juga telah menangkap tersangka lain bernama Yayan di Koja, Jakarta Utara, Kamis (6/7) karena diduga terlibat bom JW Marriott dan Ritz-Carlton.

Di Jakarta, polisi juga menangkap dua tersangka lain yakni Ibrahim dan satu lagi masih belum diketahui identitasnya. Di Temanggung, polisi telah menangkap dua orang.

Hingga kini, Polri telah menangkap lima orang yang diduga terkait dengan ledakan bom di kedua hotel itu.

ant/fid

lowongan pekerjaan
PT. BPR Bina Langgeng Mulia, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Vaksinasi dan Herd Immunity

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (16/12/2017). Esai ini karya Riris Andono Ahmad, Direktur Pusat Kedokteran Tropis Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Solopos.com, SOLO–Heboh outbreak penyakit difteri dan rendahnya cakupan imunisasi karena penolakan kelompok anti vaksin menimbulkan keresahan…