Rabu, 5 Agustus 2009 17:20 WIB Ekonomi Share :

Produsen minta pupuk urea bisa diekspor

Jakarta–Produsen pupuk urea terbesar, PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) meminta, pemerintah membuka kran ekspor untuk mengatasi kelebihan stok, akibat rendahnya penyerapan urea oleh petani di dalam negeri.

“Saat ini total stok urea (PKT) kami telah mencapai sekitar 600 ribu ton yang terdiri dari sekitar 180 ribu ton di gudang PKT, dan sekitar 420 ribu ton di lini II (gudang provinsi) dan III (gudang kabupaten),” kata Dirut PKT, Hidayat Nyakman, di Jakarta, Rabu (5/8).

Ia mengatakan, sampai akhir Juli tahun ini total penyerapan urea bersubsidi di 18 provinsi yang menjadi tanggung jawab PKT hanya sekitar 87 persen atau sebanyak 905.017 ton dari ketentuan Menteri Pertanian sekitar 1,045 juta ton.

“Kondisi itu (kelebihan stok) menyebabkan tertahannya modal kerja sekitar Rp 1,2 trilun dengan asumsi HPP (harga pokok produksi) sebesar Rp 2.000 per kilogram,” katanya.

Sampai akhir tahun PKT mendapat penugasan memasok pupuk urea bersubsidi sebanyak 1.916.413 ton. Untuk mengamankan pasokan bersubsidi, PKT tetap mengoperasikan seluruh pabriknya secara normal dengan target produksi sampai akhir tahun sekitar 2,75 juta ton.

Hidayat mengatakan, ada sejumlah faktor yang menyebabkan penyerapan pupuk urea bersubsidi yang rendah sepanjang Januari-Juli tahun ini. Ia menilai efektifitas pelaksanaan RDKK (Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok) menyebabkan penyaluran pupuk bersubsidi tepat sasaran dan petani menggunakan pupuk sesuai dengan penyuluhan seperti pemakaian urea sebesar 250 kilogram per hektar.

ant/fid

lowongan pekerjaan
ADMINISTRASI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Bersama-Sama Mengawasi APBD

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (8/12/2017). Esai ini karya Doddy Salman, mahasiswa S3 Kajian Budaya dan Media Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah doddy90@yahoo.com Solopos.com, SOLO–DPRD DKI Jakarta mengesahkan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) tahun anggaran…