Rabu, 5 Agustus 2009 10:35 WIB Internasional Share :

AS kaji penggunaan jejaring sosial oleh tentara

Washington–Departemen Pertahanan AS, Selasa, menyatakan, lembaga itu sedang mengkaji kebijakan mengenai penggunaan jejaring sosial oleh tentara Amerika guna membicarakan keprihatinan keamanan.

Menurut Pentagon, Wakil Menteri Pertahanan William Lynn telah memerintahkan kajian mengenai ancaman dan manfaat yang diperoleh melalui penggunaan jejaring sosial, termasuk Facebook, Twitter dan MySpace, yang telah digunakan banyak pihak oleh militer bagi perekrutan, hubungan masyarakat, dan menghubungi keluarga.

Dalam memo yang dikeluarkan beberapa hari lalu, Lynn mengatakan semua laman itu “secara cepat telah muncul sebagai alat terpadu dalam operasi dua hari di seluruh Departemen Pertahanan dam “ada tantangan penerapan serta resiko operasi yang harus difahami dan diredakan”.

Laporan kajian tersebut diperkirakan diselesaikan hingga akhir Agustus dan Pentagon akan mengeluarkan kebijakan mengenai topik tersebut paling lambat 30 September.

Kajian itu diperintahkan saat Korps Marinir AS mengeluarkan larangan mengenai penggunaan jaringan Marinir untuk mengakses jejaring sosial, tapi itu tak berlaku bagi komputer pribadi prajurit.

Marinir mengatakan dalam satu pernyataan bahwa “sikap alamiah laman jejaring sosial menciptakan jendela eksploitasi dan serangan yang lebih besar, membuka informasi yang tak perlu kepada musuh serta menyediakan saluran yang mudah bagi kebocoran informasi”.

Peringatan serupa juga dikeluarkan Komando Strategis AS kepada semua layanan, dan mengatakan lembaga itu sedang mempertimbangkan larangan terhadap semua laman Web.

ant/fid

lowongan pekerjaan
EDITOR MATEMATIKA (Fulltime), informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Musik untuk Palestina

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (12/12/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pendengar musik metal ala Timur Tengah. Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, bikin masalah lagi….