Rabu, 29 Juli 2009 19:14 WIB Solo Share :

27 PGOT terjaring razia

Solo (Espos)–Tim gabungan Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans), Satpol PP, Poltabes, UPTD Panti Wreda, dan RSJD Solo, Rabu (29/7), kembali menggelar razia pengemis, gelandangan, dan orang telantar (PGOT).

Sebanyak 27 PGOT berhasil terjaring razia insidental dalam rangka pengkondisian Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) 2009 itu. Dari 27 PGOT itu, dua orang dibawa ke Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD), satu orang dibawa ke Panti Asuhan Pamardi Yoga, sebanyak 13 orang dipulangkan lewat lurah karena berasal dari dalam Kota Solo, dan sisanya sebanyak 11 orang dikembalikan ke tempat asal setelah mendapat uang saku.

Kasi Rehabilitasi Sosial Dinsosnakertrans Solo, Suryanto, ditemui sebelum razia Rabu pagi mengungkapkan, razia kemarin memang sengaja dilakukan untuk menjaga kenyamanan bagi para peserta Porprov. Karena itu, lokasi razia pun difokuskan pada sekitar tempat yang jadi venue pelaksanaan pekan olahraga tersebut.

“Fokus razia kali ini, terutama adalah Stadion Manahan dan tempat lain yang jadi venue penyelenggaraan Porprov. Selain itu, juga kawasan sekitar hotel yang menjadi tempat penginapan kontingen dari berbagai daerah. Jangan sampai para atlet yang juga tamu Kota Solo itu terganggu kenyamanannya,” jelas Suryanto.

Jika ditelusur ke belakang, razia kemarin adalah kali kelima yang digelar tim gabungan tersebut. Biasanya, kata Suryanto, razia diadakan sebulan sekali. Namun, bulan ini, karena ada penyelenggaraan Porprov, razia digelar dua kali. Kendati demikian, Suryanto memastikan hal itu tidak akan mempengaruhi jadwal razia bulanan.

Berdasarkan data yang ada, dari lima kali razia itu, sudah terjaring sekitar 140 PGOT. Menurut Suryanto, memang ada dari jumlah PGOT yang terjaring lebih dari satu kali razia. Namun, persentasenya sangat kecil.
Toegimin dari UPTD Panti Wreda Solo mengatakan, Kota Solo memang merupakan pilihan paling mudah untuk dijadikan tempat mencari penghidupan bagi para PGOT. Karena itulah, meski sudah over load, UPTD Panti Wreda masih terus menerima gelandangan Lansia yang terjaring razia. Tidak hanya dari tim gabungan Pemkot, melainkan juga dari pihak kepolisian.

shs

LOWONGAN PEKERJAAN
Bagian Legal, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…