Selasa, 28 Juli 2009 11:21 WIB Ah Tenane Share :

Dikira oleh-oleh

28ahtenaneGendhuk Nicole adalah anak semata wayang dari Pak Jon Koplo dan Bu Lady Cempluk yang tinggal di daerah Moj0songo. Minggu pagi, ketika Pak Koplo dan Bu Cempluk pergi njagong, ndilalah Paklik Tom Gembus dari Magelang datang berkunjung.

Karena yang dikunjungi sedang pergi, maka setelah meletakkan dua buah tas kresek besar di meja tamu, Paklik Gembus pamit mau ke Pasar Klewer dulu dan akan kembali lagi nanti siang.

Sepeninggal Paklik Gembus, karena penasaran dengan dua tas kresek tadi, Nicole pun membukanya. Ternyata yang satu berisi bermacam-macam penganan dan roti, sedangkan satunya lagi berisi ayam goreng utuh yang masih hangat.

Pucuk dicinta ulam tiba. Karena pagi itu Nicole belum sarapan, dan lauk yang ada di rumah cuma ada tahu dan tempe, maka yang jadi sasaran adalah ayam goreng tadi. Tanpa ragu, Nicole langsung nyuwil tepong sak brutune, sementara roti dan penganan lainnya tak digubris sama sekali.

Siang harinya, tak lama setelah kedua orangtuanya pulang, Paklik Gembus pun datang lagi. Mereka bertiga lalu ngobrol ngalor-ngidul, dan menjelang sore Paklik Gembus pun pamit pulang.

Namun betapa kagetnya Gendhuk Nicole ketika tahu kalau yang ditinggal pakliknya buat oleh-oleh ternyata hanya roti dan penganan tadi. Sedangkan dus berisi ayam goreng yang sudah didhodhosi tadi dibawa lagi oleh Paklik Tom Gembus.

”Lho, Bu, oleh-oleh dari Paklik tadi cuma inita?” tanya Gendhuk Nicole setelah kepergian Paklik Gembus.

”Iya, lha kenapa ta, Ndhuk?” Bu Cempluk balik tanya.

Nicole tak menjawab dan langsung mak brabat, lari nututi pakliknya di cegatan bus. Untunglah, waktu dia menjelaskan semuanya, Paklik Gembus tidak marah, tapi malah maklum akan kelakuan keponakannya yang masih duduk di bangku SMP itu. Paklik Gembus justru meminta maaf karena telah bikin Gendhuk Nicole kecelik mengira dapat oleh-oleh ayam goreng. Kiriman Agus Yulianto, Krajan RT 04/RW III, Solo.

LOWONGAN PEKERJAAN
FORTUNA STEEL, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…