Jumat, 24 Juli 2009 19:33 WIB Issue Share :

Dorong perkembangan teater monolog, TBS bikin workshop

Solo (Espos)–Pementasan monolog berbeda dengan teater yang dilakukan secara kolektif. Dibutuhkan penjiwaan karakter yang kuat pada aktornya. Selain itu, dukungan naskah cerita harus mampu mencerminkan berbagai aspek yang menggantikan kekosongan peranan.

Menurut Koordinator Teater Taman Budaya Surakarta (TBS), Hanindawan S kepada <I>Espos<I>, Jumat (24/7), perkembangan terater monolog di wilayah Jawa Tengah dinilai mulai menggeliat kembali sejak kurang lebih lima tahun terakhir.
 
Oleh karena itu, tren positif atas peminat dan penikmat teater monolog direspons TBS dengan mengadakan <I>Worskhop Teater Monolog<I>, Sabtu-Minggu (25-26/7), di TBS. Agenda tersebut akan diikuti 50 peserta yang terdiri dari aktivis teater dari berbagai kota di Jawa Tengah. “Jumlah peserta memang sengaja dibatasi agar berjalan efektif. Mereka akan mendapatkan materi-materi mengenai teater monolog yang dipandu para tokoh seni peran hingga sastra,” papar Hanindawan.

Dia melanjutkan, di hari perdana penyelenggaraan <I>Workhsop Teater Monolog<I>, dalang wayang suket, Ki Slamet Gundono akan memberikan materi mengenai penyusunan teks monolog. Dan sesi berikutnya, Whani Darmawan asal Yogyakarta bakal mengungkap teori keaktoran. Di hari terakhir, Yudi Ahmad Tajudin dari Teater Garasi akan menyampaikan materi penyutradaraan, sementara Afrizal Malna akan ambil bagian di sesi berikutnya.

“<I>Workhsop Teater Monolog<I> ditujukan untuk meningkatkan kemampuan personal. Di satu sisi, pementasan monolog tidak perlu repot karena hanya melibatkan seorang aktor. Tapi sulit dilakukan karena membutuhkan karakter prima dan kecerdasan berpikir untuk membentuk suasana,” jelas pimpinan Teater Gidag Gidig itu.
hkt

LOWONGAN PEKERJAAN
SUMBER BARU LAND, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…