Kamis, 23 Juli 2009 19:06 WIB Sukoharjo Share :

Warga diimbau biasakan pangan alternatif

Sukoharjo (Espos)–Orientasi berlebihan terhadap bahan makanan berupa beras maupun terigu sudah saatnya harus diubah. Hal itu untuk mengantisipasi terjadinya krisis pangan di masa mendatang.

Imbauan tersebut disampaikan Kasubid Pengolahan dan Penganekaragaman Pangan Badan Ketahanan Pangan, Sudiyono yang juga bertugas sebagai dewan juri dalam acara <I>Lomba Cipta Menu Beragam, Bergizi, Seimbang dan Aman Berbasis Sumber Daya Lokal<I> yang digelar Pokja III Tim Penggerak PKK Kabupaten Sukoharjo bekerjasama dengan Badan Ketahanan Pangan ketika dijumpai <I>Espos<I> di Pendapa Graha Satya Karya, Kamis (23/7).

Sudiyono menerangkan, selama ini orientasi konsumsi masyarakat terhadap bahan pangan beras maupun terigu sangat berlebihan. “Untuk makan sehari-hari, masyarakat telah terbiasa dengan beras serta terigu dan tidak mau bahan pangan yang lain. Nah kebiasaan itulah yang harus diubah,” jelasnya.

Selain beras dan terigu, Sudiyono menambahkan, umbi-umbian sebenarnya juga bisa menjadi bahan pangan alternatif. Pasalnya, selain penanamannya lebih mudah, umbi-umbian adalah produk lokal Kabupaten Sukoharjo sementara beras maupun terigu sebagian didatangkan dari luar daerah.

“Kalau persediaan beras banyak, kita tidak akan mendapat masalah. Tapi di setiap tahun itu kan tetap ada masa paceklik sehingga panen tidak bisa maksimal. Kalau sudah begitu, persediaan beras untuk masyarakat tidak bisa dipenuhi,” ujarnya.
aps

LOWONGAN PEKERJAAN
FORTUNA STEEL, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…