Kamis, 23 Juli 2009 19:18 WIB News Share :

Keluarga berharap kabar dari Nur Said

Temanggung–Keluarga Muhammad Nasir, ayah Nur Said, 35, yang telah dinyatakan kepolisian bukan pelaku bom bunuh diri di Hotel JW Marriott, Jakarta, mengharapkan anaknya memberi kabar tentang keberadaannya.

“Sampai sekarang belum ada kabar. Kami mengharapkan ada kabar dari kakak saya,” kata Syafrudin, adik Nur Said, mewakili keluarga Muhamad Nasir di Temanggung, Kamis.

Nasir dan istrinya, Tuminem, 57, sejak dijemput aparat pada Senin (20/7) untuk menjalani tes “deoxyribonucleic acid” (DNA) hingga Kamis (23/7), belum tampak pulang ke rumahnya.

Syafrudin, mengatakan, orang tuanya masih menenangkan diri di suatu tempat sehingga belum pulang ke rumah di Desa Katekan, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.

Keluarga mengharapkan Nur Said pulang ke rumah itu karena sejak beberapa tahun terakhir tidak pulang. Nur adalah anak keempat dari enam bersaudara.

Pada 1999, Nur menikahi istrinya yang berasal dari Klaten dan hingga saat ini memiliki dua anak. Sejak saat itu dia tinggal di rumah mertuanya. Sejak 2001 mereka tidak tinggal lagi di Klaten dan tidak mudik ke Katekan, di kawasan timur Gunung Sindoro.

Ia menyatakan bersyukur karena Nur bukan pelaku terorisme di Jakarta pada Jumat (17/7). Teror bom terjadi di dua hotel mewah yakni JW Marriott dan The Ritz-Carlton di kawasan bisnis Mega Kuningan, Jakarta, mengakibatkan sejumlah orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka.

Sekretaris Desa Katekan, Sumari, menyatakan, warga setempat turut bergembira karena Nur telah dinyatakan pihak kepolisian bukan sebagai pelaku teror. “Kami turut lega,” katanya.

Kabar yang berkembang tentang dugaan Nur sebagai pelaku teror akhir-akhir ini, katanya, sempat mengakibatkan masyarakat setempat cemas.

Nama desa itu, katanya, menjadi terkenal karena pemberitaan media massa dalam beberapa hari terakhir ini.

“Namun, terkenalnya karena ada warganya diduga pelaku bom bunuh diri,” katanya.

Ia meminta pemulihan nama baik untuk desa itu. Pihaknya tidak ingin menyalahkan kalangan pers yang bertugas mencari berita terkait dugaan keterlibatan Nur dalam teror bom itu.

“Kami menyesalkan pernyataan pemberi informasi, seolah menyudutkan warga desa kami. Kami berharap pemberi pernyataan yang pertama untuk meminta maaf. Polisi juga belum memastikan pelakunya,” katanya.

Pada kesempatan itu Sumari juga mengatakan, masyarakat setempat turut prihatin atas situasi berat yang dihadapi keluarga Nasir.

“Kami ikut prihatin karena beban mental yang sedang dihadapi keluarga itu, Pak Nasir tetap warga kami,” katanya.
Ant/tya

LOWONGAN PEKERJAAN
PT. SEMBADA AGUNG PRATAMA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…