Selasa, 21 Juli 2009 11:24 WIB Ah Tenane Share :

Punya gula

21ahtenane1Meski usianya telah menginjak 60 tahun, Mbah Jon Koplo yang tinggal di Sukoharjo ini masih kelihatan segar bugar. Namun, satu hari Mbah Koplo sambat badannya gregas-greges. Ia pun meminta cucunya, Tom Gembus, untuk mengantarnya berobat ke Puskesmas.

Tiba di Puskesmas, Gambus dan Mbah Koplo mendaftar dan menunggu giliran. Dan setelah beberapa saat, tibalah giliran Mbah Jon Koplo diperiksa. Tom Gembus pun menemani eyangnya masuk ke ruang pemeriksaan.

”Mangga. Ada keluhan apa, Mbah?” sambut Bu Dokter Lady Cempluk.

”Niki lhe, Bu Dokter, awak kula radi nggreges,” jawab Mbah Koplo.

”Oh, kalau begitu saya periksa dulu, njih?”

Dokter Cempluk pun segera melakukan beberapa pemeriksaan. Setelah memeriksa Mbah Jon Koplo, Bu Dokter Cempluk mulai menulis resep.

”Kagungan gendhis, Mbah?” tanya Bu Cempluk tiba-tiba sambil tetap menulis resep.

Dengan polosnya, Mbah Jon Koplo menjawab, ”Oh, gadhah Bu Dokter. Kala wingi nembe mawon ditumbaske anak kula teng peken. Panjenengan kersa?”

Mendengar jawaban Mbah Jon Koplo itu, meledaklah tawa Bu Dokter Cempluk dan Tom Gembus. Sambil ngampet ngguyu, Tom Gembus menjelaskan, ”Mbah, sing dimaksud Bu Dokter niku panjenengan kagungan penyakit gendhis mboten, sanes gendhis sing tumbas ten pasar.”

”Ooo… darakku nek gula pasir apa gula jawa sing nang omah kae,” jawab Mbah Koplo sambil klecam-klecem kisinan. Kiriman Nova Ardian Wibowo, Tirisan RT 01/RW 23, Makamhaji, Kartasura, Sukoharjo.

lowongan pekerjaan
CV MITRA RAJASA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…