Jumat, 17 Juli 2009 11:59 WIB Tokoh Share :

Marta tularkan jiwa seni

17sri-martani

Sri Martani

Sejak kecil, Sri Martani sudah tak asing dengan kesenian. Saat itu, jiwa seni perempuan yang akrab dipanggil Marta tersebut mulai dipupuk dengan belajar menari tradisonal bersama kakeknya, Raden Mas Padmo Subroto.  ”Sampai sekarang, aktivitas berkesenian tetap saya geber. Bukan hanya untuk diri sendiri, saya juga menularkan jiwa seni ini ke teman-teman,” jelas mantan vokalis Puspa Nada itu saat ditemui Espos, Kamis (16/7), di kediamannya.

Dan di akhir bulan ini, Marta pun bersiap membawa rombongan penari ke kongres Women International Club (WIC) di Padang. Para penari tersebut, lanjut Marta, sebenarnya adalah anggota WIC yang terdiri dari para ibu-ibu pengusaha dan kaum sosialita.  ”Di kongres tersebut, kami akan menari Tari Yapong. Masing-masing perwakilan dari berbagai daerah hingga mancanegara memang diminta untuk membawakan pertunjukan seni untuk mengisi kongres,” jelas Marta yang bertugas sebagai koreografernya.

Selain menari, perempuan berusia 61 tahun itu juga gigih berkecimpung di bidang seni lainnya. Marta pernah ngetop sebagai penyanyi pop di era 1980-an. Dia juga sering bermain film dan aktivitas seni lain untuk mengusir kejenuhannya.  hkt

LOWONGAN PEKERJAAN
Bagian Legal, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…