Rabu, 15 Juli 2009 11:44 WIB News Share :

TNI masih tunggu konfirmasi Polri

Jakarta–Mabes TNI hingga kini masih menunggu konfirmasi hasil uji balistik yang dilakukan Polri, terkait insiden di Papua akhir pekan lalu yang menewaskan dua orang warga sipil dan satu anggota Polri.

“Kami masih menunggu hasil rinci uji balistik yang dilakukan Polri,” kata Juru Bicara TNI Marsekal Sagom Tamboen di Jakarta, Rabu (15/7), menyusul dugaan keterlibatan militer dalam insiden itu dengan ditemukan amunisi senjata organik TNI/Polri.

Sagom Tamboen menambahkan, hingga kini belum ada laporan dari satuan TNI di Papua yang menyatakan kehilangan senjata atau amunisi.

“Setiap senjata dan jumlah amunisi yang digunakan prajurit TNI hingga satuan terkecil selalu dilaporkan setiap hari. Begitu pun setelah digunakan. Dan hingga kini tidak ada senjata atau amunisi yang hilang,” ungkap Kepala Puspen TNI Marsekal Muda Sagom.

Sebelumnya, Polri menyatakan, pelaku aksi penembakan yang belakangan marak di kawasan pertambangan PT Freeport Indonesia, Timika, Papua, diduga kelompok bersenjata terlatih. Namun, Kepolisian Daerah Papua hingga kini belum bisa memastikan para pelaku penembakan yang telah menewaskan tiga orang itu.

Kepala Polda Papua Inspektur Jenderal FX Bagus Ekodanto menyebutkan pelaku rangkaian penembakan adalah kelompok yang sama berdasarkan temuan proyektil-proyektil peluru yang ditemukan.

Peluru yang digunakan pelaku menunjukkan jenis senjata organik yang biasa dipakai anggota polisi maupun TNI, ujarnya.

Senjata organik itu bisa saja merupakan rampasan kelompok Tentara Pembebasan Nasional Organisasi Papua Merdeka (TPN OPM). Namun, untuk membuktikannya, semua barang bukti peluru, selongsong, dan proyektil sedang diteliti di Pusat Laboratorium dan Forensik Polri.

Kepala Polda Papua mengatakan, sejumlah fakta yang mendukung dugaan pelakunya kelompok terlatih adalah penembakan yang dilakukan pada jarak sekitar 150 meter dari tebing itu berhasil melukai, bahkan menewaskan penumpang di dalam mobil yang sedang melintas.

Rangkaian gangguan keamanan di Freeport dimulai saat pembakaran bus karyawan dan pos keamanan perusahaan di Mil 71 pada 8 Juli dinihari.

Tiga hari kemudian terjadi penembakan di Mil 53 yang menewaskan Drew Nicholas Grant (38), pekerja Freeport asal Australia. Esok harinya, petugas satuan keamanan (sekuriti) Freeport, Markus Rante Allo, juga tewas ditembak di Mil 51.

Peristiwa terakhir, 13 Juli, jenazah provos Polda Papua, Brigadir Dua Marson Fredy Pettipelohi, ditemukan dengan luka parah di bagian leher di Mil 64.

ant/fid

lowongan pekerjaan
PT.ARUTAMA BUMI STILINDO, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Solusi Kemanusiaan untuk Jerusalem

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (13/12/2017). Esai ini karya Mudhofir Abdullah, Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah mudhofir1527@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pernyataan sepihak Presiden Amerika Serikat Donald Trump atas Jerusalem sebagai ibu kota Israel yang…