Senin, 13 Juli 2009 12:29 WIB News Share :

8 WNI di Guangzhou dikarantina akibat H1N1

Beijing–Sebanyak delapan warga negara Indonesia (WNI) yang berada di wilayah kerja KJRI Guangzhou dikarantina, terkait merebaknya wabah flu H1N1 (flu babi), namun demikian kesemuanya dinyatakan negatif.

“Setidaknya ada delapan WNI yang telah dikarantina oleh pihak berwenang, terkait wabah flu itu. Namun demikian setelah diperiksa lebih lanjut kesemuanya tidak ada yang positif,” kata Konjen KJRI Guangzhou, Harimawan Sujitno, Senin (13/7).

Wilayah kerja KJRI Guangzhou mencakup provinsi Guangdong, wilayah otonomi khusus Guangxie, Provinsi Fujian, dan Provinsi Hainan.

Dari WNI yang dikarantina tersebut, umumnya mereka terduga kena flu setelah melakukan perjalanan menggunakan pesawat terbang dan kereta api, yang salah seorang penumpangnya menderita flu babi itu.

“Tapi setelah para WNI dikarantina selama satu hingga dua hari, ternyata tidak ada yang positif kena flu babi. Meskipun semula ada gejala panas dan batuk,” kata Harimawan.

Dia memperkirakan, kemungkinan adanya WNI yang dikarantina lagi tetap saja terbuka, mengingat arus lalu lintas masyarakat Indonesia yang datang ke wilayah kerja KJRI Guangzhou sangat tinggi.

“Kemungkinan untuk bertambah bisa saja jika melihat tingginya masyarakat Indonesia yang datang ke senini,” katanya.

Selama WNI berada dikarantina, katanya, pihak KJRI Guangzhou tidak bisa menemui mereka, tapi hanya bisa terus memantau keberadaan mereka dari pihak berwenang yang melakukan karantina.

Harimawan menyangkal bila dikatakan WNI yang dikarantina disamakan dengan penjahat, sehingga harus dipenjara dan tidak bisa bertemu dengan pihak yang diinginkan.

“Saya minta pengertian kepada masyarakat Indonesia yang dikarantina bahwa karantina sangat beda jauh dengan penjara. Karantina adalah suatu bentuk keselamatan kepada diri sendiri dan masyarakat. Tujuannya adalah untuk penyembuhan atau untuk mendeteksi adanya penyakit atau tidak,” ungkapnya menegaskan.

Dia mengakui bahwa terdapat beberapa masyarakat Indoensia yang dikarantina merasa tidak nyaman, karena ruang geraknya sangat terbatas, tidak bisa pergi ke mana-mana dan tidak bisa berjumpa dengan siapa-siapa.

“Memang ruang gerak mereka menjadi terbatas. Tapi KJRI Guangzhou tetap memantau kondisi dan keberadaan masyarakat Indonesia yang dikarantina. Saya jamin,” katanya menambahkan.

KJRI Guangzhou menilai, selama ini pihak berwenang telah bersikap kooperatif dan membantu seluruh warga Indonesia yang dikarantina dan tidak menyia-nyiakan mereka, sehingga menjadi hidup lebih sulit.

ant/fid

lowongan pekerjaan
ADMINISTRASI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Intelek Banal Kampus Milenial

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (9/12/2107). Esai ini karya Adi Putra Surya Wardhana, alumnus Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah adiputra.48697@gmail.com. Solopos.com, SOLO¬†— Beberapa waktu lalu beberapa kawan yang menempuh…