Minggu, 12 Juli 2009 20:53 WIB Wonogiri Share :

MOS tidak boleh melibatkan alumni dan pihak luar

Wonogiri (Espos)–Dinas pendidikan (Disdik) Wonogiri melarang panitia masa orientasi sekolah (MOS) melibatkan alumni dan pihak luar. Jika larangan dilanggar, kepala sekolah yang bersangkutan diberikan sanksi tidak boleh menggelar kegiatan sejenis selama tiga tahun berturut-turut.

Penyelenggaraan MOS dilaksanakan tiga hari sejak Senin-Rabu (13-15/7) dan berprinsip 5 M( mudah, murah, meriah, massal dan menyenangkan). Penyelenggara tidak dibenarkan memungut beaya ekstra untuk menambah peralatan yang justru membebani siswa, namun bersifat fleksibel. Demikian ditegaskan Kepala Disdik Wonogiri, H Suparno saat ditemui <I>Espos<I> di ruang kerjanya, Sabtu (11/7).

“Kami sudah buat SE dan sudah kami edarkan. Kami berharap selama MOS tidak terdengar berita-berita miring, berita balas dendam senior ke junior ataupun berita bahwa penyelenggara mempersulit siswa baru. Karena tujuan MOS adalah memahamkan kehidupan sekolah bagi siswa baru dan mendorong siswa baru untuk bersikap pro aktif,” ujarnya.

Pada bagian lain, Suparno membantah kabar bahwa RSBI membatasi siswa dari KK miskin untuk bersekolah, karena biaya cukup mahal.

 “Untuk bersekolah di RSBI tidak ada persyaratan harus anak dari orangtua mampu. RSBI sendiri bukan kepanjangan dari rintisan sekolah bertarif Internasional namun rintisan sekolah bertaraf Internasional. Jika ada anak daris KK miskin dan lolos seleksi tetap bisa mengikuti pembelajar dan tidak ada alasan untuk ditolak atau dikeluarkan. Jadi anak-anak dari KK miskin jika memang berprestasi tidak perlu takut.”

Karena, ujarnya, siswa dari KK miskin akan mendapatkan fasilitasi beaya secara berjenjang. Untuk tingkat SD mendapatkan Rp 400.000/tahun, SLTP senilai Rp 600.000/tahun. “Ada berbagai bentuk keringanan bagi anak dari KK miskin, selain fasilitasi juga beasiswa senilai Rp 360.000/tahun (SD) dan Rp 531.00/tahun (SMP), bantuan biaya penyelenggaraan siswa miskin Rp 120.000/siswa/tahun (SD) dan Rp 240.000/siswa/tahun (SMP). Hal-hal itu untuk mendukung Wajar 9 tahun.”

Dicontohkannya untuk SDN 1 Wonogiri terdapat16 anak yang mendapatkan BP2SM (bantuan penyelenggaraan pendidikan siswa miskin), 12 anak mendapatkan BSM (beasiswa miskin) dan 16 anak digratiskan. Untuk SMPN 2 RSBI sebanyak 68 anak difasilitasi untuk mendapatkan BSM dan beasiswa prestasi.

Sedangkan untuk SMAN 1 dan 2 RSBI Wonogiri juga mengalokasi anggaran bagi siswa miskin secara berlainan.

Untuk SMAN 1 RSBI Wonogiri, ujarnya, 23 anak diberikan keringanan beaya dan dibebaskan beaya pengembangan, sedangkan SMAN 2 RSBI Wonogiri sebanyak 20 anak diberikan subsidi senilai Rp 3 juta/tahun dan 3 anak dibebaskan beaya selama setahun karena memiliki prestasi.

Terpisah, Kepala SMPN 1 RSBI Wonogiri, H Kusman dan Kepala SMAN 1 Wuryantoro, Suparno mengatakan MOS digelar dengan prinsip edukatif. “Jika ada, pembebanan kepada siswa baru prinsipnya hanya untuk mengetahui ketekunan dan kesungguhan siswa,” jelas H Kusman.

H Kusman juga mengatakan tahun ajaran 2009/2010 ada 50 anak yang dibebaskan dan diberi keringanan beaya pendidikan. “Juga bagi siswa baru juara UASBN juga mendapatkan pembebasan biaya sekolah secara variatif. Untuk juara I bebas selama 3 tahun, juara II bebas 2 tahun dan juara III bebas 1 tahun.”

tus

LOWONGAN PEKERJAAN
PT. SEMBADA AGUNG PRATAMA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…