Kamis, 9 Juli 2009 17:11 WIB Issue Share :

Seratusan penari serbu audisi Drama Musikal Tari Jawa

Solo (Espos)–Seratusan penari muda berbakat berbondong-bondong mengikuti audisi Drama Musikal Tari Jawa di Wisma Seni, Taman Budaya Surakarta (TBS). Pemilihan bibit-bibit berbakat yang bakal diproyeksikan untuk mengikuti sebuah drama musikal yang digagas oleh BRA Atilah Soeryadjaya tersebut berlangsung Selasa-Kamis (7-9/7).

“Rata-rata per harinya, ada 50-an pendaftar yang ikut audisi. Audisi tak hanya diselenggarakan di Solo saja, tapi juga di Jakarta,” papar pimpinan produksi, Iwan Mandong saat ditemui Espos, Kamis (8/7), di tempat audisi.

Dalam kesempatan itu, para peserta audisi melewati tiga ujian dasar, yaitu kemampuan menari, akting, dan vokal di hadapan dewan juri. Para juri profesional yang didapuk untuk menguji kemampuan menari adalah Nuryanto, Eko “Pebo” Supendi, Boby Arisetyawan, dan Daryono.

Sementara itu untuk juri vokal dipegang Peni Candrarini dan Waluyo. Sedangkan Elly Luthan dan Wasibantolo menjadi juri untuk kemampuan akting.

“Mereka (para juri) sudah ahli di bidang masing-masing. Jadi kapasitas serta kualitas dari casting ini nggak mungkin diragukan lagi,” jelas Iwan.

Iwan melanjutkan, jumlah peserta audisi memang lebih banyak dari perkiraan semula. Tapi penyeleksian tetap diperketat dan dijalankan dengan sungguh-sungguh. Oleh karena itu, para juri tak segan memberikan tantangan untuk menguji kemampuan peserta.

“Peserta audisi ini adalah penari-penari yang punya kemampuan mengagumkan. Tentunya, kami akan cari yang terbaik dari yang terbaik untuk mengikuti Drama Musikal Tari Jawa yang akan melibatkan 90 penari dan 50 pemusik ini,” bebernya.

hkt

LOWONGAN PEKERJAAN
Taman Pelangi Jurug, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…