Kamis, 9 Juli 2009 17:41 WIB Boyolali Share :

2010, krisis air bersih di Kendel berakhir

Boyolali (Espos)–Mulai tahun depan ratusan jiwa dari Dukuh Kendel Ban, Glinggang dan Gagan, Desa Kendel, Kecamatan Kemusu, yang selama ini terdampak kemarau, akan mendapatkan kemudahan memperoleh air bersih, meski musim kemarau melanda.

Masyarakat akan mendapatkan kemudahan mendapatkan air, setelah pemerintah desa setempat mendapatkan bantuan anggaran program Penyediaan Air Minum Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) dari Pemkab Boyolali dan Pemerintah Pusat senilai Rp 220 juta.

Anggaran tersebut digunakan untuk membangun instalasi sumur dalam dan jaringan pipa yang menjangkau permukiman warga. Untuk memasksimalkan pembangunan, Pemdes Kendel mengucurkan anggaran sebesar Rp 11 juta ditambah swadaya masyarakat Rp 49 juta.

Kepala Desa Kendel, Eko Puryono, mengatakan pembangunan sumur berkedalaman 60 meter tersebut direncanakan terealisasi 2009. Menurut rencana, air untuk memasok kebutuhan warga diperoleh dari Sendang Kenongo yang berjarak 750 meter dari permukiman penduduk.

“Dari sendang itu mampu dialirkan air sebanyak 2,5 liter/detik,” katanya, Kamis (9/7).

Menurut Eko, pasokan air yang disalurkan melalui jaringan pipa akan dapat memenuhi kebutuhan air warga dari Dukuh Kendel Ban, Glinggang dan Gagan.

Dikatakan, Sendang Kenongo dipilih karena memiliki volume air stabil meski di musim kemarau sekalipun dan berjarak relatif dekat dari permukiman penduduk.
Selama ini, setiap memasuki musim kemarau, sebanyak 600 Kepala Keluarga (KK) yang tersebar di Kendel Ban, Glinggang dan Gagan mengalami kesulitan mendapatkan air bersih untuk keperluan mandi, cuci dan kakus (MCK).

Pasalnya sumur-sumur dangkal yang mereka miliki tidak lagi mengalirkan air setiap masuk musim kemarau. Untuk tetap mendapatkan air, warga harus ngangsu di Sendang Wiu yang berjarak kurang lebih 500 meter dari permukiman penduduk.

Di awal kemarau, volume air di sendang masih cukup memadai untuk mencukupi kebutuhan penduduk. Namun mulai Agustus hingga September yang diperkirakan sebagai puncak, volume air menyusut drastis.

dwa

LOWONGAN PEKERJAAN
SUMBER BARU LAND, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…