Rabu, 8 Juli 2009 18:23 WIB News,pilpres Share :

Wiranto dan Mega 2 kali kalah, Prabowo bisa bersinar di 2014

Jakarta–Wiranto dan Megawati merupakan dua peserta Pilpres yang telah dua kali gagal dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) secara langsung. Sedangkan Prabowo Subianto kalah dalam pertarungan Pilpres 2009, namun masih ada kemungkinan akan bersinar pada 2014.

Hasil quick count dari berbagai lembaga memperlihatkan bahwa SBY-Boediono unggul jauh dibanding dua capres-cawapres lainnya dalam Pilpres 2009, Rabu (8/7). SBY-Boediono meraup suara sekitar 60%, Mega-Prabowo sekitar 27%, dan JK-Wiranto sekitar 12 persen.

Dari para capres-cawapres itu, Wiranto dan Megawati yang memiliki rekor kalah dalam Pilpres terbanyak. Keduanya sudah dua kali kalah. Bila pada Pemilu 2014 nanti, keduanya akan maju lagi dalam Pilpres, maka keduanya juga akan menjadi pemegang rekor terbanyak sebagai peserta Pilpres. Namun, ada kemungkinan Wiranto dan Megawati tidak akan ikut lagi dalam Pilpres 2009, karena keduanya sudah berusia 67 tahun.

JK kemungkinan besar juga tidak akan maju dalam Pilpres 2014, karena usianya sudah 72 tahun. Demikian juga SBY juga tidak akan maju dalam Pilpres 2014 karena sudah dua periode menjabat presiden. Boediono juga dianggap sudah sepuh bila ikut Pilpres 2014, karena usianya mencapai 71 tahun.

Satu-satunya peserta Pilpres 2009 yang kemungkinan besar masih akan ikut dalam Pilpres 2014 adalah Prabowo Subianto. Dengan bekal perolehan suara Mega-Prabowo dalam Pilpres 2009, bisa jadi Prabowo akan bersinar pada Pilpres 2014. Usianya pada 2014 juga baru 63 tahun.

Perolehan suara Mega-Prabowo meningkat tajam bila dibandingkan hasil Pemilu Legislatif 2009. Duet ini sebenarnya secara signifikan hanya didukung dua parpol, yaitu PDIP dan Gerindra. Dalam Pemilu 2009, PDIP meraup suara 14,02% dan Gerindra hanya 4,46%. Bila saat ini, sesuai data hasil quick count berbagai lembaga, Mega-Prabowo bisa meraih 27 persen, maka berarti duet ini bisa menambah perolehan suara sekitar 9%.

dtc/tya

LOWONGAN PEKERJAAN
FORTUNA STEEL, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…