Rabu, 8 Juli 2009 16:54 WIB Sragen Share :

Ratusan pasien RSUD kehilangan hak pilih

Sragen (Espos)–Ratusan pasien rumah sakit umum daerah (RSUD) Sragen serta puluhan narapidana penghuni Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kelas II B Sragen terpaksa harus kehilangan hak suaranya pada pelaksanaan Pemilu Presiden (Pilpres), Rabu (8/8).

Kepala LP Kelas II B Sragen, Waluyo, kepada <I>Espos<I> di sela pencontrengan mengatakan para narapidana yang sebagian besar dari luar kota ini harus gigit jari lantaran tidak masuk dalam daftar pemilih tetap (DPT). Tidak masuknya para napi dalam DPT dikarenakan tidak memenuhi berbagai persyaratan saat dilakukan pendataan oleh petugas beberapa waktu lalu.

Selain itu, beberapa napi yang tidak bisa menggunakan hak pilihnya karena memang baru saja masuk setelah dilakukan pendaftaran DPT. LP Sragen sendiri masuk dalam TPS 23, Kelurahan Sragen Wetan, Sragen. Sementara tentang kemudahan mencontreng dengan menggunakan kartu tanda penduduk (KTP) bagi pemilih sebagaimana diputuskan Mahkamah Konstitusi (MK) juga tidak dimungkinkan karena para napi tidak tercatat sebagai warga di mana LP berada. Sedangkan jumlah napi yang menggunakan hak pilihnya dalam Pilpres 2009 ini tercatat sebanyak 282 orang, dari total penghuni sebanyak 408 orang.
Berdasarkan catatannya, di TPS 23 Kelurahan Sragen Wetan ini, sebanyak 61 napi yang sebelumnya terdaftar dalam DPT sudah dibebaskan sebelum hari pelaksanaan pilpres. Sehingga para napi tersebut dimungkinkan menggunakan hak suara di tempat asal. “Kami tidak memberikan libur kepada napi pada pelaksanaan Pilpres ini tapi hanya dispensasi waktu pada saat melakukan pencontrengan,” jelas Waluyo.

isw

LOWONGAN PEKERJAAN
Tegar Transport Hotel Paragon Solo, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…