Minggu, 5 Juli 2009 14:34 WIB News Share :

Balai Pustaka terbitkan kembali karya pujangga lama

Jakarta–Penerbit Buku Balai Pustaka menerbitkan kembali buku-buku sastra klasik karya pujangga lama dalam Pesta Buku Jakarta 2009 di Istora Senayan.

Asmen Bidang Distributor PT Balai Pustaka Persero Bambang Triyono di Jakarta, Sabtu mengatakan penerbit Balai Pustaka menerbitkan kembali karya-karya para sastrawan besar agar generasi muda mengerti dan membaca kembali karya mereka.

“Kita mencetak ulang buku-buku sastra klasik lama agar masyarakat kembali mengetahui karya mereka,” ujarnya.

Ia mengatakan alasan lain yang membuat perusahaan berusia 92 tahun ini menerbitkan karya lama adalah untuk melestarikan dan mengembangkan budaya bangsa.

“Kita mengemban misi itu karena kami juga milik pemerintah, walau sekarang kami berjuang sendiri karena sudah berbentuk BHMN,” tuturnya.

Balai Pustaka juga menerbitkan paket khusus untuk buku-buku tersebut dalam Seri Indonesian Cultural Heritage yang terdiri dari delapan buku karya sastra klasik terbaik Indonesia.

“Buku-buku tersebut dijadikan satu dan tidak dijual terpisah karena khusus untuk para kolektor dan peminat serius karya sastra klasik Indonesia,” ujar Bambang.

Pada acara peluncuran, Rabu (10/6), Buku yang termasuk dalam karya sastra klasik tersebut adalah Atheis karya Achdiat K. Mihardja, Azab dan Sengsara karya Merari Siregar, Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma karya Idrus.

Kemudian Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisjahbana, Habis Gelap Terbitlah Terang  karya Armijn Pane, Salah Asuhan karya Abdoel Moeis, Salah Pilih karya N Sutan Iskandar, dan Sitti Nurbaya karya Marah Rusli.    

Selain itu, penerbit Balai Pustaka juga masih bertahan dengan buku-buku referensi ilmu pengetahuan serta novel-novel dan bahkan telah menerbitkan novel “Olenka” karya budayawan Budidarma.

“Kami juga yakin mampu bertahan karena buku-buku kami juga memiliki pasar tersendiri, yaitu para penikmat sastra dan budaya Indonesia,” ujar Bambang menyikapi persaingan Balai Pustaka dengan penerbitan yang lebih komersil.

Ia juga mengatakan, penerbitan yang murni tidak mengandalkan dari keuntungan ini, berharap mendapat perhatian dari pemerintah karena penerbit Balai Pustaka juga sangat penting untuk menjaga identitas bangsa.

“Harapannya pemerintah masih ikut untuk memberikan perhatian dan dukungan agar buku-buku ini menjadi perekat bangsa dan tidak lekang dimakan zaman,” tuturnya.

Anjungan Balai Pustaka juga memajang buku-buku koleksi lama terbitan awal abad ke 20 seperti Layar Terkembang, si Dul anak Betawi, Salah Asuhan dan karya-karya Pramoedya Ananta Toer pada tahun 1960-an.

“Buku-buku ini sempat ditawar kolektor seharga Rp 30 juta tapi kami tidak lepas, karena ini merupakan koleksi berharga kami,” ujar Bambang.

Saat ini, penerbit Balai Pustaka yang juga memiliki rencana untuk “merger” dengan penerbit Prandya Paramita, memiliki 1548 terbitan buku dengan kategori referensi, umum, sastra, pendidikan dan budaya.

“Dengan buku-buku seperti ini kami mengemban misi yang murni untuk pendidikan sehingga kami masih berharap agar masih diberi kesempatan bisa bekerjasama kembali dengan dinas pendidikan di masa mendatang,” ujarnya.
Ant/tya

LOWONGAN PEKERJAAN
SUPERVISOR JAHIT & PENJAHIT HALUS, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…