Sabtu, 4 Juli 2009 16:03 WIB Sport Share :

Federer dan Roddick bertemu di final Wimbledon 2009

London–Roger Federer Jumat mencapai babak final Grand Slam yang merupakan rekornya ke-20 dan ketujuh secara berturut-turut pada turnamen tenis Wimbeldon, sementara Andy Roddick mengakhiri usaha Andy Murray untuk menjadi petenis Inggris pertama yang menjadi juara di Wimbledon sejak 1936.

Juara lima-kali Federer berhasil menyingkirkan petenis kawakan Jerman Tommy Haas 7-6 (7/3), 7-5, 6-3 dalam semi final dan akan mengejar gelar juara Grand Slam yang menjadi rekor ke-15 nya pada Minggu saat ia bakal menghadapi musuh lamanya, Roddick.

Petenis unggulan keenam asal Amerika Serikat itu mengakhiri harapan besar Inggris dengan kemenangan 6-4, 4-6, 7-6 (9/7), 7-6 (7/5) atas unggulan ketiga Murray yang semula diharapkan bakal bisa menjadi petenis Inggris pertama yang menjadi juara di ajang itu sejak Fred Perry meraihnya 73 tahun lalu.

Federer tidak diragukan lagi bakal menjadi pemain favorit bagi gelar juara itu karena memiliki catatan telah mengalahkan Roddick 18 kali dalam 20 pertandingan, termasuk final 2004 dan 2005 di Wimbledon.

Dengan disaksikan oleh para mantan juara Grand Slam Bjorn Borg dan Rod Laver di Royal Box, petenis nomor dua dunia itu menampilkan servis-servis yang sempurna terhadap Haas (31), tanpa memberikan satu pun break point.

“Tommy bermain dengan baik sehingga saya tahu itu berbahaya. Saya senang dengan permainan saya dan sungguh sulit dipercaya bisa berada di final lagi,” ujar Federer.

“Saya mendapat banyak tekanan selama bertahun-tahun tetapi saya tengah menantikan pertandingan besar lain dan suatu peluang untuk bisa dicantumkan dalam buku-buku sejarah.”

Federer mengatakan ia sangat menantikan tantangan di final tersebut.

“Saya pernah memainkan pertandingan yang menarik bersama Roddick. Anda tidak pernah dapat meremehkannya dengan servis-servisnya itu,” katanya.

Haas juga melontarkan pujiannya kepada petenis Swiss tersebut.

“Benar-benar tidak terlihat adanya kelemahan. Ia bergerak dengan cara yang mulus dan melakukan permainan bertahan yang baik,” ujar pemain asal Jerman tersebut.

Sementara Roddick Minggu akan memainkan partai final besarnya yang pertama sejak 2006.

“Saya harus menampilkan permainan tenis terbaik saya hari ini. Saya tidak dapat mengatakan hal-hal yang cukup baik mengenai permainan Andy tetapi saya kadang dapat bermain tenis dengan baik,” ujar Roddick, yang baru menang dua kali dalam delapan kali pertemuan sebelumnya dengan petenis asal Skotlandia itu.

Murray, yang empat tahun lebih muda dari Roddick dan lima tahun lebih muda dari Federer, yakin ini hanya masalah waktu sebelum ia dapat membukukan kemenangan besarnya.

“Saya kira saya masih memiliki peluang. Saya yakin saya dapat memperoleh satu gelar Grand Slam, entah apa itu di Wimbledon atau AS Terbuka atau Australia atau apa pun, Saya akan memberi diri saya sendiri kesempatan,” kata petenis nomor tiga dunia itu.

ant/fid

LOWONGAN PEKERJAAN
PT.Japantech Indojaya, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…