Jumat, 3 Juli 2009 17:04 WIB Sragen Share :

Tenaga WB resah ada praktik pemotongan insentif

Sragen (Espos)–Kalangan tenaga honorer guru wiyata bakti (WB) di Kabupaten Sragen resah menyusul adanya praktik pemotongan atas tunjangan insentif kesejahteraan rakyat (Kesra) yang diterima hingga Rp 300.000 per WB.

Praktik pemotongan atas rapelan insentif yang diterima setiap semester ini mencuat setelah sejumlah guru TK/SD di Kecamatan Kedawung mengadukan pemotongan yang terjadi kepada salah satu pengurus struktural DPC Partai Pelopor Sragen, Haryadi. Menurut Haryadi, uang potongan itu ditarik sesaat setelah insentif dicairkan pada Jumat (5/7) di Kantor Disdik setempat. Pemotongan dilakukan atas instruksi Kepala UPTD Disdik Kecamatan Kedawung dan berlaku untuk seluruh honorer penerima insentif di kecamatan itu.

Namun, Haryadi meyakini praktik pemotongan seperti itu tidak hanya terjadi di Kedawung melainkan merata di seluruh kecamatan di wilayah Sragen. Pihaknya sangat menyesalkan adanya praktik pemotongan insentif tersebut. Apalagi besarnya potongan yang dilakukan mencapai Rp 300.000 ini sangat merugikan honorer WB yang menerima. Terlebih, larangan pemotongan insentif tenaga honorer juga sudah berulangkali ditegaskan.

“Selama enam bulan bekerja, mereka (honorer WB) hanya dibayar kurang dari Rp 1 juta. Kok tega-teganya masih dipotong Rp 300.000,” ujarnya.

Mengenai alasan pemotongan sendiri, Haryadi mengungkapkan bahwa petugas Disdik berlasan bahwa uang tersebut dipotong untuk pemerataan yang nantinya akan dibagi untuk tenaga honorer yang tidak mendapat jatah insentif.

isw

LOWONGAN PEKERJAAN
PT.MICROVISION INDONESIA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…