Kamis, 2 Juli 2009 23:28 WIB Ah Tenane Share :

Lelayu palsu

02koploPeristiwa memalukan tapi menggelikan ini terjadi pada tanggal 10 November 2008. Kisah berawal saat Lady Cempluk, salah seorang pekerja di pabrik tekstil tersebut, sakit keras.

Padahal, biasanya Cempluk itu terkenal paling usil dan terkenal funky dan gaul, seperti pepatah saja rasanya ada gula ada semut ada Cempluk ada ribut.

Oleh karena itu, beberapa hari saja Cempluk nggak masuk pabrik jadi sepi banget. Karena itu, Gendhuk Nicole berinisiatif untuk mengirim SMS menanyakan keadaan Cempluk.

Kocaping kacarita, Gendhuk Nicole mendapat jawaban ”Ibu uwis mati”. Membaca jawaban itu, kontan Gendhuk Nicole nangis mbeker-mbeker ngagetke sak pabrik. Nicole pun cerita tentang isi SMS itu. Pabrik geger. Berita kematian Lady Cempluk terdengar juga di telinga para petinggi pabrik. Dengan kebaikan hati bos Tom Gembus pabrik sementara diliburkan dan menyuruh menyiapkan bus pabrik untuk melayat Lady Cempluk.

Rombongan berangkat dari pabrik sambil membawa karangan bunga, karyawati pabrik berangkat naik bus sambil pating prembik berwajah sendu mengenang almarhumah yang ceria dan karyawannya naik motor berbonceng-boncengan menuju rumah Lady Cempluk tetapi apa yang terjadi pembaca? Ternyata Lady Cempluk waras-wiris malah baru ngrungokke campursari sambil leyeh-leyeh.

Kontan rombongan yang mirip kampanye tersebut menarik perhatian para tetangga Lady Cempluk. Melihat rumahnya didatangi bus dan teman-temannya, Cempluk kaget sekaligus seneng, malah semua teman ceweknya pada ngrangkuli. Yang cowok juga pating cekikik. Kemudian bos Gembus sambil tersenyum menghampiri Cempluk.

”Wah, saya senang sekali melihat kamu masih segar bugar dan nggak jadi mati,” kata bos Gembus diiringi koor tertawa ratusan anak buahnya.

”Maaf bos, siapa yang ngabarke saya meninggal?” tanya Cempluk heran dan baru tahu kalau teman-temannya tidak bermaksud menjenguk tapi malah melayat dirinya.

”Aku Pluk. Mau aku SMS kowe takon piye kabarmu terus dijawab, ibu wis mati, terus aku woro-woro ke kanca-kanca kabeh,” Gendhuk Nicole memberi penjelasan sambil menunjukkan bukti SMS.

”Oalah! HPku digawa anakku sekolah, saiki tak tekonane sing nulis balesan kuwi sapa?” jawab Cempluk sambil memanggil anaknya.

”Aku mau meh nulis ibu wis mari kleru ibu wis mati,” jelas anaknya Cempluk yang ternyata baru kelas III SD itu dan diiringi tawa ngakak teman-teman Cempluk.

Akhirnya kesalahpahaman ini dapat dimengerti dan mereka akhirnya kembali ke pabrik untuk bekerja lagi, paling lucu sebelum pulang bos Gembus bilang ”Sorry oleh-olehe bukan roti tapi kembang sawur.”

Woalah, Pluk, Pluk, melas timen nasibmu. Ijik urip kok dikabarke uwis mati.

Kiriman Maya Ratna Santi SH, Semanggi RT 04/RW 21 Pasar Kliwon, Solo 57117.

LOWONGAN PEKERJAAN
SUMBER BARU LAND, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…