Selasa, 30 Juni 2009 18:19 WIB News Share :

170 ribu orang di Jateng masih buta aksara

Semarang (Espos)–Tercatat sekitar 170.00 warga usia 15 tahun ke atas di Jateng masih menyandang buta aksara. Kebanyakan mereka tinggal di daerah pedesaan.

Menurut Gubernur Jateng, Bibit Waluyo program pemberantasan buta aksara usia 15 tahun ke atas memang belum bisa tuntas, karena jumlahnya cukup besar.

“Meski begitu selama kurun waktu tahun 2008 Pemprov Jateng mampu menurunkan angka buta aksara dari 1,61 juta orang menjadi 1,44 juta orang,” kata Gubernur dalam sambutan tertulis yang dibacakan Sekretaris Daerah (Sekda) Pemprov Jateng, Hadi Prabowo pada rapat paripurna DPRD jateng di Gedung Berlian, Semarang, Selasa (30/6).

Pada tahun 2008, lanjut Gubernur merupakan momentum penuntasan buta aksara tahap pemberantasan usia 15 tahun ke atas di Jateng yang terbukti mampu menurunkan sebanyak 1,44 juta orang sehingga sekarang tinggal 170.000 orang.

“Diharapkan tahun 2009 Jateng sudah bebas buta aksara usia 15 tahun ke atas,” tandasnya.

Lebih lanjut Gubernur menjelaskan Pemprov jumlah anggaran untuk urusan pendidikan, termasuk di dalamnya pemberantasan buta aksara pada tahun 2008 sebesar Rp 145,73 miliar.

Dana tersebut, digunakan pula untuk biaya pendidikan anak usia dini (PAUD) serta peningkatan mutu dan kompetensi pendidikan, serta tenaga kependidikan.

Khusus untuk PAUD telah berhasil melayani 1,48 juta anak atau sekitar 59,22 persen dari jumlah 2,5 juta anak. Sedangkan yang belum terlayani sekitar 1,02 juta anak atau sekitar 40,78 persen.

oto

lowongan pekerjaan
PT. SO GOOD FOOD, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…