Sabtu, 27 Juni 2009 13:32 WIB News Share :

SBY
Usaha besar harus adil

Cirebon–Calon Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengharapkan usaha-usaha besar di Indonesia melanjutkan bisnisnya dengan baik dan bersikap adil terhadap usaha kecil.

“Usaha besar jangan kuasai terlalu banyak cabang ekonomi. Kasihan yang lain tidak kebagian, ingat saudara-saudara yang lain, beri kesempatan yang lain untuk berusaha. Itu adil, bertenggang rasa bukan diambil untuk kepentingan keluarga sendiri,” kata SBY dalam pidato kampanyenya di GOR Bima Cirebon, Sabtu (27/6).

Dijelaskan SBY, usaha besar saat ini masih diperlukan negara untuk mendorong perekonomian nasional, membuka lapangan kerja dan penerimaan pajak negara.

“Jadi usaha besar juga dibutuhkan, dan tetap bisa melanjutkan usaha dengan baik,” katanya di hadapan sekitar 2.500 undangan kampanye yang terdiri dari berbagai parpol koalisi pendukung SBY-Boediono.

Namun, sektor usaha mikro dan kecil yang lebih banyak dikuasai oleh rakyat, lanjut SBY harus dibantu dengan memberikan bantuan modal kredit biasa atau kredit usaha rakyat (KUR) dan membantu pemasaran sehingga produksi usaha mikro kecil semakin meningkat.

Begitu pula kepedulian terhadap industri kecil yang bergerak di sektor kerajinan, menurut SBY harus terus dibantu setiap saat.

“Saya lebih sering menggunakan batik, bukan kali ini saja, bukan karena kampanye pilpres saja. Mencintai batik dan kerajinan harus dari hati bukan karena kampanye pilpres saja,” kata dia.

SBY juga menjelaskan soal utang luar negeri yang menurutnya terus turun jumlahnya sejak dirinya menjadi presiden.

“Utang luar negeri kita tahun 2004 68,6 miliar dolar AS, tahun 2009 65,7 miliar dolar AS atau berkurang Rp 30 triliun lebih,” katanya.

Pinjaman itu, lanjutnya digunakan seefisien mungkin untuk membiayai pembangunan.

“Saya tidak mau lagi pembangunan dibiayai dengan jual aset negara seperti dulu, saya tidak mau membiayai pembangunan dengan privatisasi yang aneh-aneh,” katanya.

ant/fid

lowongan pekerjaan
PT. BPR Mitra Banaran Mandiri, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Mengenang (Pendidikan) Guru

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (24/11/2017). Esai ini karya Bandung Mawardi, kuncen Bilik Literasi. Alamat e-mail penulis adalah bandungmawardi@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pada akhir abad XIX orang-orang Jawa mulai memiliki cita-cita baru. Sekian orang ingin menjadi guru seperti tuan kulit…