Senin, 8 Juni 2009 17:14 WIB Boyolali Share :

Harga lebih tinggi, peternak sapi perah pilih jual langsung ke konsumen

Boyolali (Espos)–Sebagian peternak sapi perah di Boyolali, memilih memasarkan susu hasil perahan ke pembeli eceran daripada ke koperasi. Karena mereka menilai harga beli yang dipatok koperasi dinilai terlalu rendah.

Jika di pembeli eceran susu mampu terjual Rp 3.500/liter, maka di koperasi hanya dipatok Rp 2.700/liter. Meski demikian, sebagian pemerah belum berani penuh menghentikan pengiriman ke koperasi.

Salah satu peternak sapi perah dari RT 10, Sidorejo, Kragilan, Mojosongo, Suradi, 50, mengatakan harga beli susu sapi yang dipatok koperasi hanya Rp 2.700/liter, jauh lebih rendah dibanding harga beli pembeli eceran yakni Rp 3.500/liter.

Keuntungan dari hasil penjualan susu sapi ke koperasi, menurutnya, terlalu mepet untuk memenuhi kebutuhan operasional dan perawatan sapi.

Suradi mengatakan, biaya perawatan sapi per hari membutuhkan Rp 15.000 untuk membeli makanan berupa singkong dan ampas tahu.

Setiap bulan, ia juga harus mengeluarkan biaya tambahan sebesar Rp 50.000 untuk membeli vitamin penambah nafsu makan.

“Untuk menutup kekurangan biaya operasional dan perawatan, saya juga melayani pembeli individu,” katanya, Senin (8/6).

Meski harga yang ditawarkan koperasi dinilai rendah, Suradi mengaku tak mampu berbuat banyak. Meksi harga beli yang ditawarkan dinilai rendah, pemilik empat ekor sapi perah itu tetap mengirim hasil perahan ke koperasi.

Ia tak berani menghentikan pengiriman, pasalnya, ia menjadi anggota dan berhak mendapatkan sejumlah fasilitas dan kemudahan, termasuk pinjaman modal.
Suradi hanya mampu berharap harga susu dapat kembali merangkak naik sama seperti dua bulan lalu yang mencapai Rp 3.200/liter.

Sikap berbeda dilakukan salah satu peternak dari RT 7 Desa Karanggeneng, Kecamatan Boyolali, Sarno, 41. Karena tidak cocok dengan harga yang diberikan koperasi setempat, hampir dua tahun terakhir ia tidak lagi mengirim susu ke koperasi.

dwa

lowongan pekerjaan
PT. INDUKTURINDO UTAMA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Wacana Lama Densus Antikorupsi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (20/10/2017. Esai ini karya Hafid Zakariya, Ketua Program Studi Ilmu Hukum di Universita Islam Batik (Uniba) Solo. Alamat e-mail penulis adalah hafidzakariya@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Rencana pembentukan Detasemen Khusus Antikorupsi yang digulirkan kembali oleh…