Senin, 8 Juni 2009 06:48 WIB News,Feature Share :

Akademi TNI pertimbangkan penerimaan taruna perempuan

Magelang–Akademi TNI hingga saat ini masih mempertimbangkan kemungkinan untuk menerima taruna perempuan, kata Komandan Jenderal Akademi TNI, Mayjen TNI (Mar), Nono Sampono. “Penerimaan taruni (Taruna Perempuan,red) masih sulit, mempertimbangkan datangnya taruni di kampus seperti ini tidak mudah,” katanya di Magelang, Senin (8/6), usai memimpin Pembukaan Pekan Integrasi dan Kejuangan Taruna Akademi TNI tahun 2009 di Lapangan Sapta Marga Akademi Militer (Akmil), kawasan lembah Gunung Tidar, Kota Magelang, Jawa Tengah.

Ia mengatakan, berbagai sarana dan prasarana untuk pendidikan taruna perempuan harus disiapkan terlebih dahulu jika Akademi TNI akan menerima mereka untuk menjalani pendidikan sebagai calon perwira TNI.

Akademi TNI meliputi Akmil, Akademi Angkatan Udara, dan Akademi Angkatan Laut. “Bukan hanya menyangkut emansipasi saja, tetapi sarana dan prasarana untuk hadirnya wanita di sini harus berbeda, seperti tempat tidur tidak boleh sama dengan taruna laki-laki, kamar mandi, jemuran pakaian, yang lainnya boleh sama tapi tempat tidur tidak boleh sama,” katanya.

Ia mengatakan, persoalan menyangkut nilai budaya timur harus diperhitungkan secara seksama untuk penerimaan taruna perempuan di Akademi TNI.

“Bukan sekadar fasilitas dan anggaran, kita masih sangat menghormati nilai budaya kita, tidak hanya faktor fisik tetapi juga nonfisik, harus dipersiapkan,” katanya.

Ia menyatakan, TNI memiliki korps bagi perempuan seperti Korps Wanita Angkatan Darat (Kowad). Korps itu, katanya, sebagai tempat bagi kaum perempuan untuk berpartisipasi dalam tugas kemiliteran.

“Ada Kowad, wanita TNI yang dalam porsi lain diberi kesempatan,” kata Nono Sampono.

ant/fid

lowongan pekerjaan
PT. Lemindo Abadi Jaya, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Mengenang (Pendidikan) Guru

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (24/11/2017). Esai ini karya Bandung Mawardi, kuncen Bilik Literasi. Alamat e-mail penulis adalah bandungmawardi@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pada akhir abad XIX orang-orang Jawa mulai memiliki cita-cita baru. Sekian orang ingin menjadi guru seperti tuan kulit…