Minggu, 7 Juni 2009 06:53 WIB News Share :

TNI tetap tidak akan gegabah di Mamberamo

Jakarta–Mabes TNI menyatakan, pihaknya tidak akan gegabah menyikapi situasi keamanan di Maberamo, Papua, menyusul kontak senjata antara kelompok separatis bersenjata dan aparat kepolisian Sabtu (6/6) dinihari.

Juru bicara TNI Marsekal Muda TNI Sagom Tamboen kepada ANTARA di Jakarta, Minggu mengatakan, hingga kini penanganan situasi di Mamberamo masih menjadi tanggungjawab pihak kepolisian.

“Apa yang terjadi kemarin, masih dalam bentuk kriminalitas berupa gangguan kamtibmas yang sepenuhnya menjadi tanggungjawab polisi. Kita, hanya memantau dan siap untuk membantu jika diperlukan,” katanya.

Sagom menambahkan, kehati-hatian TNI menyikapi situasi di Mamberamo mengingat banyak sekali warga sipil di sekitar wilayah tersebut, khususnya di sekitar areal bandara perintis Kasiepo yang telah lama diduduki kelompok bersenjata OPM.

Dua anggota kelompok sipil bersenjata tewas dan dua anggota yang lain terluka, saat aparat keamanan berupaya merebut bandara perintis Kasiepo di Mamberamo, yang telah hampir satu bulan diduduki OPM.

Jajaran Detasemen Khusus 88 Antiteror dan Brigade Mobil Kepolisian Daerah Papua tiga hari terakhir berhasil mendekati Lapangan Terbang Kapeso.

Kepala Kepolisian Daerah Papua Inspektur Jenderal FX Bagus Ekodanto dalam keterangan pers di Jayapura, Papua, Sabtu (6/6), mengatakan, hingga kemarin lapangan terbang perintis itu masih dijadikan tempat pertahanan kelompok bersenjata tersebut.

Polisi melakukan penyergapan ke Kanal Suwandi di dekat Lapangan Terbang Kapeso, di Kecamatan Mamberamo Hilir, Mamberamo Raya, Papua, tersebut sejak Rabu lalu.

Dua anggota kelompok bersenjata itu tewas, sedangkan dua anggota yang lain terluka dan kini dirawat di Rumah Sakit Kasonaweja di Kabupaten Mamberamo Raya.

“Aparat masih berada di sekitar Kampung Kapeso untuk berusaha merebut lapangan terbang perintis itu,” demikian penjelasan Bagus, yang didampingi Pelaksana Tugas Kepala Bidang Humas Polda Papua Ajun Komisaris Besar Nurhabri.

Penyergapan yang disertai kontak senjata tersebut, menurut Bagus, berlangsung sekitar empat jam. “Aparat juga menemukan beberapa dokumen di rumah warga, yang mengindikasikan bahwa kelompok kriminal bersenjata itu merupakan jaringan OPM.   

Selain itu, aparat menemukan dua senjata rakitan yang mirip AK-47 dan mouser,” ujar Bagus.
Ant/tya

lowongan pekrajaan
Yayasan Internusa Surakarta, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Mengenang (Pendidikan) Guru

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (24/11/2017). Esai ini karya Bandung Mawardi, kuncen Bilik Literasi. Alamat e-mail penulis adalah bandungmawardi@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pada akhir abad XIX orang-orang Jawa mulai memiliki cita-cita baru. Sekian orang ingin menjadi guru seperti tuan kulit…