Sabtu, 6 Juni 2009 10:34 WIB Feature,pilpres,Boyolali Share :

Panwas temukan selisih angka DPT Pilpres

Boyolali (Espos)–Panwas Boyolali menemukan selisih angka pada daftar pemilih tetap (DPT) Pemilu presiden yang telah ditetapkan KPU Pusat. Selisih angka mencapai 757 pemilih. Paling banyak ditemukan di Kecamatan Mojosongo.

Secara umum selisih suara ditemukan di enam kecamatan, yakni Mojosongo dari semula 41.602, menjadi 42.189 pemilih. Sawit dari semula 25.035, mejadi 25.145. Berikutnya Banyudono dari 37.908, menjadi 37.909 pemilih.

Sementara di Kemusu ditemukan selisih dari 33.826, menjadi 33.877 pemilih. Begitu juga di Juwangi dari 25.340, menjadi 25.346 pemilih. Sedangkan di Musuk dari 47.115, menjadi 47.116 pemilih.

Ketua Divisi Hukum dan Penanganan Pelanggaran Panwas, Joko Mardiyanto mengatakan, Panwas menemukan perbedaan angka DPT yang diperoleh dari KPU dalam waktu berbeda.

Ia mengatakan, dalam rekapitulasi DPT yang diperoleh Panwas sebelumnya, jumlah pemilih tertulis 767.337. Namun DPT terbaru yang diperoleh Sabtu (6/6) jumlahnya berubah menjadi 768.093 pemilih atau selisih 757 pemilih.

“Ini fakta aneh, sebab daftar pemilih telah ditetapkan KPU Pusat tetapi kenapa diubah KPUD,” tandasnya kepada wartawan, Sabtu.

Semestinya, ia melanjutkan, baik KPUD maupun KPU provinsi tak dapat menambah atau mengurangi jumlah pemilih DPT. Jika dilakukan, maka dapat dipidanakan.
Joko menegaskan, meski pemilih tambahan masuk dalam DPT, namun dipastikan tidak dapat menggunakan hak pilih. Karena DPT yang dikirim dari KPUD se-Indonesia telah ditetapkan KPU Pusat.

Dikatakan, sejauh ini Panwas mengaku belum mengetahui persis latar belakang KPU mengubah DPT. Namun yang pasti, menurutnya, hal itu berpotensi menimbulkan masalah di lapangan.

Lebih lanjut Joko menguraikan, Panwas juga menemukan kejanggan pada jumlah tempat pemungutan suara (TPS) yang mengalami penurunan. Mestinya, lanjutnya, jumlah TPS bertambah seiring bertambahnya jumlah pemilih.

dwa

lowongan pekerjaan
Gramedia Surakarta, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Pilkada, Demokrasi, dan Hantu Politik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (17/01/2018) dengan judul Demokrasi Kita dan Hantu Politik. Esai ini karya Muhammad Fahmi, dosen di IAIN Surakarta dan Doktor Kajian Budaya dan Media. Alamat e-mail penulis adalah fahmielhalimy@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Tahun 2018 sering dijuluki…