Jumat, 5 Juni 2009 19:59 WIB Sukoharjo Share :

Curah hujan tak pasti, petani tembakau ketar-ketir

Sukoharjo(Espos)–Kalangan petani tembakau di Gatak merasa ketir-ketir dengan ketidakpastian musim serta curah hujan akhir-akhir ini. Sejumlah petani terpaksa melakukan tanam ulang lantaran bibit yang telanjur ditanam membusuk setelah terguyur hujan.
Salah seorang petani tembakau, Srimoro, 43, warga Kagokan, Gatak saat ditemui Espos di Kagokan, Jumat (5/6), menerangkan tembakau termasuk tanaman kering sehingga jika kebanyakan mendapat air maka akar serta daunnya bisa membusuk.

“Lha kalau hujan masih terus turun seperti ini, kami hanya bisa berharap agar tanaman tak membusuk,” papar dia.
Diungkapkan olehnya, pertengahan bulan Mei hingga Juni biasanya sudah masuk musim kemarau sehingga tepat sekali untuk memulai menanam tembakau.

Namun kenyataannya akhir-akhir ini, hujan deras masih sering mengguyur. Srimoro menambahkan, tembakau yang ditanamnya daunnya sebagian telah mengering setelah beberapa kali tersiram air hujan.
Menurutnya, tembakau menjadi tanaman andalan warga setempat karena saat musim kemarau, pasokan air untuk lahan pertanian sulit diperoleh. Selain itu, harga jual panen tembakau cukup stabil dan pemasarannya mudah.

Ia mencontohkan, dari lahan seluas 3.000 meter persegi yang ditanami tembakau tahun lalu, ia bisa mendapatkan penghasilan Rp 3 juta. Petani tembakau lainnya, Tentrem, 50, warga Kagokan menuturkan, dirinya terpaksa tombok dan melakukan tanam ulang karena tembakau yang telanjur ditanam membusuk.

“Kalau saya baru sekali nyulami (tanam ulang–red). Petani lain ada yang sampai tiga kali menanam ulang karena tanaman tembakaunya mati semua,” jelasnya.
Sementara, petani lain, Sumadi, 70, mengatakan dirinya akan menunggu hingga pertengahan Juni untuk menentukan tanaman apa yang ditanam di lahannya.

Terpisah, Kepala Dinas Pertanian (Dispertan) Sukoharjo, Giyarti menuturkan, ketidakpastian musim saat ini memang berisiko bagi para petani tembakau. Oleh sebab itu, jika memang petani merasa ragu-ragu, maka sebaiknya memilih tanaman lain yang lebih tahan terhadap air.

Apalagi, lanjutnya, belum ada kepastian kapan hujan akan berakhir.
Dikatakan dia, tembakau merupakan salah satu komoditas yang banyak dihasilkan petani di Gatak, Kartasura, Grogol dan Baki. Namun demikian, lanjutnya, jumlah petani yang rutin menanam tembakau hanya sekitar 100 orang.

rei

lowongan pekerjaan
Kepala Produksi, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Wacana Lama Densus Antikorupsi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (20/10/2017. Esai ini karya Hafid Zakariya, Ketua Program Studi Ilmu Hukum di Universita Islam Batik (Uniba) Solo. Alamat e-mail penulis adalah hafidzakariya@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Rencana pembentukan Detasemen Khusus Antikorupsi yang digulirkan kembali oleh…