Kamis, 4 Juni 2009 19:41 WIB News Share :

Perubahan istilah di KBBI bingungkan media

Salatiga (Espos)–Perubahan lema atau entri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi I hingga IV dinilai akan membingungkan media massa dan masyarakat pada umumnya sebagai pengonsumsi berita-berita yang disajikan media.

Hal itu seperti diungkapkan Ketua Pengurus Pusat Forum Bahasa Media Massa (FBMM), TD Asmadi, dalam Seminar Nasional Bedah Kamus Besar Bahasa Indonesia di Hotel Le Beringin Salatiga, Kamis (4/5) siang. Dia mengemukakan, salah satu contoh perubahan terbaru dalam KBBI edisi IV adalah lema perhati yang berganti menjadi hati, sehingga kata bentukannya juga berubah.

“Di KBBI edisi III, kata perhati disebut sebagai kata dasar dan bentukannya adalah memerhatikan. Tetapi di KBBI edisi IV tidak ada lema perhati dan dikatakan asal kata itu adalah hati, kemudian berubah menjadi berhati dan bentukannya memperhatikan. Perubahan semacam itu banyak ditemukan di KBBI sehingga membingungkan pembaca, akhirnya yang jadi sasaran media,” paparnya.

Asmadi menambahkan, pemisalan lain perubahan yang mencengangkan adalah kata menghelat. Menurut dia, pada KBBI edisi III kata itu mengandung arti menipu atau memperdayakan dan berasal dari kata dasar helat yang artinya tipu  muslihat, dalih, atau akal. Namun di KBBI edisi IV muncul kata menghelat yang bermakna menyelenggarakan atau menggelar. “Jauh sekali,” lanjutnya.

Pemateri dari Universitas Diponegoro Semarang, Prof Dr Mudjahirin Thohir, menyatakan beragamnya suku bangsa, bahasa daerah, dan keyakinan masyarakat, menimbulkan konsekuensi Bahasa Indonesia tidak bisa bebas dari pengaruh unsur-unsur itu. Karenanya, ujar dia, lembaga bahasa berkewajiban memasukkan kata-kata yang telah dipakai secara permanen menjadi lema KBBI.

“Bahasa adalah ekspresi kebudayaan yang bersifat dinamis, karena itu Bahasa Indonesia tidak perlu menutup diri dan dibatasi. Hanya persoalannya kemudian adalah penambahan kosakata dalam praktek kehidupan sehari-hari masyarakat, jumlahnya jauh lebih besar daripada yang bisa dicatat dan dimasukkan di kamus. Akibatnya ada istilah yang dibutuhkan tidak tertampung,” sambungnya.

Sementara itu Kepala Pusat Bahasa, Meity Taqdir Qodratillah, dalam mengatakan penyusunan kamus memerlukan proses yang panjang dan rumit. Meski mengakui kekurangan-kekurangan dalam penyusunan KBBI IV, dia menyebutkan adanya perbaikan dan perkembangan makna serta lema dan sublema dalam kamus edisi terbaru itu.

try

lowongan pekerjaan
SOLO GRAND MALL, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
”Akad” Populer karena Berbeda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (14/10/2017). Esai ini karya Romensy Augustino, mahasiswa Jurusan Etnomusikologi Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Solo. Alamat e-mail penulis adalah romensyetno@yahoo.com. Solopos.com, SOLO – -Youtube adalah salah satu media sosial yang menjadi rujukan…