Kamis, 4 Juni 2009 12:14 WIB News,Feature,Ekonomi Share :

ADB setujui pinjaman US$1 miliar untuk Indonesia

Manila–Asian Development Bank”s (ADB) menyetujui pinjaman sebesar US$ 1 miliar untuk Indonesia. Pinjaman ini merupakan salah satu pinjaman tunggal terbesar yang pernah diberikan ADB untuk Indonesia.

Dana itu untuk mempertahankan pengeluaran anggaran yang sangat diperlukan untuk pengurangan kemiskinan, jaminan sosial dan pemeliharaan infrastruktur di tengah krisis ekonomi global.

Pinjaman ini diberikan di bawah Program Fasilitas Bantuan Belanja Anggaran Pemerintah Indonesia (Public Expenditure Support Facility Program) yang memungkinkan Indonesia memperkuat jaring pengaman keuangan, meningkatkan penggalangan dana dari pasar komersial dan mempertahankan stabilitas sektor keuangan, dengan demikian mengurangi biaya yang harus dibayarkan pemerintah jika meminjam dari pasar.

Dewan Direktur menilai krisis keuangan yang terjadi saat ini sangat mengurangi kemampuan Indonesia untuk bisa mendapatkan dana dari pasar keuangan saat ini.

Resesi ekonomi yang dialami oleh beberapa mitra dagang utama Indonesia Indonesia juga berpengaruh buruk pada permintaan ekspor Indonesia dan menghambat aliran investasi yang masuk ke negara ini.

“Krisis keuangan global menyebabkan biaya yang harus dikeluarkan Indonesia untuk mengakses pasar utang internasional dan biaya perdagangan menjadi mahal. Hal ini bisa menghambat belanja pemerintah untuk program pelayanan sosial dan pengurangan kemiskinan yang sangat penting menjadi terhambat,” kata Jaseem Ahmed, Direktur untuk Financial Sector, Public Management and Trade Division ADB untuk wilayah Asia Tenggara dalam siaran pers, Kamis (4/6).

“Pinjaman ini akan membuat pemerintah bisa mempertahankan belanja anggaran dan menangani dampak kemiskinan akibat krisis keuangan secara lebih efektif,” kata Jaseem Ahmed.

Program Fasilitas Bantuan Belanja Anggaran Pemerintah Indonesia merupakan bagian dari upaya bersama yang dilakukan oleh ADB, pemerintah Australia dan Jepang serta Bank Dunia untuk membantu Indonesia dalam mengatasi krisis keuangan dan agenda pembiayaan anggaran pemerintah.

Dengan pinjaman dari ADB sebesar US$1 miliar maka total bantuan untuk fasilitas ini menjadi US$5,5 miliar. Pemerintah bisa menarik dana dari fasilitas ini untuk memenuhi kekurangan pendanaan anggaran per kuartal hingga akhir 2010.

Pemerintah Indonesia telah menyatakan hanya akan menarik dana dari fasilitas ini jika kondisi pasar tetap sulit dan syarat-syarat bagi penarikan pinjaman dalam rencana keuangan terpenuhi.

Indonesia adalah negara pertama diantara negara-negara anggota ADB yang menerima pinjaman siaga semacam ini.

Pinjaman ini bisa dicairkan satu kali sekaligus dengan masa pembayaran selama 15 tahun dan masa tenggang selama tiga tahun. Bunga pinjaman ini akan ditentukan sesuai dengan fasilitas pinjaman ADB berbasis LIBOR. Pinjaman ini dilengkapi dengan fasilitas kontijensi dengan opsi yang memungkinkan dilakukannya penundaan dalam penarikan dana.

ADB yang berkedudukan di Manila bertekad untuk mengurangi kemiskinan di kawasan Asia dan Pasifik melalui pertumbuhan ekonomi yang melibatkan semua pihak, pertumbuhan yang berwawasan lingkungan secara berkelanjutan dan integrasi regional.

ADB didirikan pada tahun 1966 dan dimiliki oleh 67 negara anggota dimana 48 diantaranya ada di kawasan Asia. Pada tahun 2008 ADB menyetujui pinjaman sebesar US$10,5 miliar dan proyek hibah sebesar US$811 juta serta bantuan teknis senilai US$274,5 juta.

dtc/fid

lowongan pekerjaan
PT. INDUKTURINDO UTAMA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
”Akad” Populer karena Berbeda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (14/10/2017). Esai ini karya Romensy Augustino, mahasiswa Jurusan Etnomusikologi Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Solo. Alamat e-mail penulis adalah romensyetno@yahoo.com. Solopos.com, SOLO – -Youtube adalah salah satu media sosial yang menjadi rujukan…