Senin, 1 Juni 2009 19:16 WIB Solo Share :

Jumlah pengamen di Solo meningkat 20%

Solo (Espos)–Jumlah pengamen di Solo dalam setahun terakhir ini mengalami pembengkakan hingga mencapai 20% dibanding tahun-tahun sebelumnya. Anehnya, jumlah pengamen terbanyak saat ini didominasi para pemuda dan orangtua kisaran usia antara 20 hingga 40 tahun, bukan lagi anak-anak.

Koordinator pendampingan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Keluarga Pengamen Solo (Kapas), Aliful Adhim menjelaskan, sata ini pihaknya tengah melakukan pendataan terhadap para pengamen yang tersebar di sejumlah titik di Kota Solo. Dari pendataan tersebut, data yang telah masuk hingga kini telah mencapai 350 pengamen. Dari jumlah tersebut, katanya, 60 % adalah para pengamen pemuda dan orangtua yang usianya berkisar antara 20 tahun hingga 40 tahun.

“Pendataan kami memang masih dapat separoh. Namun, dari data tersebut sudah bisa dibaca bawah jumlah pengamen di Solo bertambah pesat. Prediksi kami mencapai 20%. Sementara, 60 % adalah para pemuda berusia antara 20 tahun hingga 40 tahun. Soal apa penyebabnya, kami belum tahu,” papanya saat ditemui Espos di kantor Kapas Jebres, Senin (1/6).

Dia mengatakan, para pengamen tersebut berasal dari berbagai wilayah, mulai dari Solo hingga yang dari luar Solo. Meski demikian, sejumlah pengamen diakui sulit terdeteksi lantaran tingkat perpindahannya cukup tinggi. “Kalau pengamen yang sudah kami koordinir dan masuk pembinaan Kapas, masih mudah dijangkau. Tapi, kalau yang “liar” itu yang susah,” paparnya.

Sejumlah kelompok pengamen yang tergolong “liar” itu, kata Adhim, biasanya tak memiliki keluarga alias tinggal sekenanya tanpa identitas. Namun, pengamen yang masih bisa diatur rata-rata pengamen yang memiliki keluarga di Solo dan ikut dalam pembinaan Kapas.

“Pengamen yang tergolong “liar” itu berada di tiga titik, yakni perempatan Pangung, Jebres, kawasan Pasar Ledoksari, Jebres, serta kawasan Pasar Ngemplak. Mereka itu rata-rata tak punya akses sosial dan keluarga di Solo,” paparnya.

Ketua Kapas, Gani Purwanto menambahkan, saat ini pihaknya tengah melakukan upaya memberdayakan para pengamen agar beralih profesi yang dinilai rawan penertiban dari Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) maupun aparat kepolisian. “Sejumlah pengamen memang ada yang berhasil dari keluar profesi lama mereka dan membuka usaha kecil-kecilan untuk memenuhi nafkah keluarga,” paparnya.
asa

lowongan pekerjaan
KISEL, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Eropa pun Galau Ihwal Media Sosial

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (16/10/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah djauhar@bisnis.com. Solopos.com, SOLO — Kegalauan ihwal media sosial kini melanda hampir seluruh negara di…