Senin, 1 Juni 2009 16:40 WIB News,Hukum Share :

Capres diminta tidak sentuh sara dan bohongi publik

Jakarta–Tokoh lintas agama Indonesia meminta kepada pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) untuk menghindari isu SARA dan cara-cara yang tidak bermoral seperti penggunaan politik uang.

Seruan tersebut dikemukakan para tokoh lintas agama di Centre for Dialogue and Corporation among Civilization (CDCC), Menteng, Jakarta Pusat, Senin.

Para tokoh agama ini juga mendesak para capres dan cawapres  untuk tidak melakukan pembohongan publik, memanipulasi fakta dan tidak menggunakan cara-cara yang tidak terpuji pada  masa kampanye.

Hadir diantara tokoh lintas agama tersebut adalah Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Din Syamsuddin, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI)  Amidhan, Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) Andreas A Yewangoe, Pimpinan Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Nyoman Udayana, Perwakilan Umat Budha Indonesia (Walubi), Oka Diputera, dan sejumlah tokoh agama lainnya.

Tokoh lintas agama ini mengeluarkan sikap tersebut setelah melihat adanya gejala kampanye yang tidak sehat oleh para tim sukses capres/cawapres.

Bahkan gejala tersebut sudah masuk ke masalah SARA (suku , agama dan antargolongan ).

“Sebelum masa kampanye dimulai kami sudah melihat sudah ada tim sukses yang memasuki aspek SARA . Karena itu kami dari lintas agama bertemu,” kata Ketua MUI, U Amidhan.

Sebelum para tokoh lintas agama tersebut menyatakan sikap, mereka lebih awal melakukan rapat di kantor CDCC. Beberapa keputusan yang dihasilkan antara lain menyerukan kepada pasangan capres/ cawapres agar tidak menggunakan politik uang, pembohongan publik, manipulasi fakta dan cara-cara yang tidak terpuji lainnya saat kampanye nanti.

“Karena itu, selama kampanye para capres dan cawapres hendaknya menggunakan cara-cara yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, saling menghormati, mencerdasarkan dan memberikan pencerahan kepada rakyat,” kata Ketua Umum PGI, Andreas A. Yewangoe.

Selain itu, tokoh lintas agama tersebut juga menyerukan kepada pasangan capres/cawapres agar memfokuskan perhatiannya pada agenda dan program pembangunan yang jelas dan terukur dalam mengakhiri transisi kehidupan bangsa.

Ada pun masalah yang dihadapi bangsa menurut mereka adalah meliputi bidang politik, ekonomi, budaya, kemiskinan, pengangguran, dan rendahnya kualitas hidup rakyat.

Selain program pembangunan, para tokoh lintas agama ini juga meminta agar capres dan cawapres bersaing secara sehat, cerdas dan berkeadaban.

Pilpres,  menurut mereka, merupakan pencerminan dari budaya dan moralitas bangsa Indonesia yang luhur.
Ant/tya

lowongan pekerjaan
KISEL, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Wacana Lama Densus Antikorupsi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (20/10/2017. Esai ini karya Hafid Zakariya, Ketua Program Studi Ilmu Hukum di Universita Islam Batik (Uniba) Solo. Alamat e-mail penulis adalah hafidzakariya@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Rencana pembentukan Detasemen Khusus Antikorupsi yang digulirkan kembali oleh…